Sheikh Imran Hosein Part (1) Beyond September 11th (Indo Sub.)  

Posted by Abu Dzulfiqar

koq ga bisa edit "about me" ya?  

Posted by Abu Dzulfiqar in

ketika saya mau edit "about me" keluar pesan ini :

Maafkan kami, tapi kami tidak dapat menyelesaikan permintaan Anda.

Saat melaporkan galat ini ke Layanan Bantuan Blogger atau pada Kelompok Bantuan Blogger, jangan lupa:
  • Jelaskan apa yang Anda lakukan sebelum galat ini muncul.
  • Sediakan kode galat dan informasi tambahan berikut ini.
bX-4m9sad

Informasi tambahan

blogID: 5779958416324549852 host: www.blogger.com uri: /widget
Informasi ini akan membantu kami melacak masalah Anda dan menyelesaikannya. Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini.

Cari bantuan

Lihat apakah orang lain memiliki masalah yang sama: Telusuri Grup Bantuan Blogger untuk bX-4m9sad
Apabila tidak ada hasil untuk penelusuran tersebut, Anda bisa memulai topik baru. Pastikan untuk menyebutkan bX-4m9sad di pesan Anda.


ada yang bisa bantu?

Kisah Ashabul Ukhdud  

Posted by Abu Dzulfiqar in

Dahulu para raja mengandalkan para tukang sihir untuk memantapkan kekuasaan. Para tukang sihir bekerja menundukkan manusia kepada penguasa dengan tipuan dan taktik yang mereka lakukan. Lebih dari itu, tukang sihir merupakan pilar penopang tiang-tiang kekuasaan dan menegakkan para raja sebagai tuhan yang disembah selain Alloh.

Rasululloh shallallâhu ‘alaihi wa sallam telah menyampaikan kepada kita bahwa ada seorang raja yang mempunyai tukang sihir yang sudah berumur lanjut. Dia takut ilmunya lenyap, sehingga tukang sihir ini meminta kepada raja agar mengutus kepadanya seorang pemuda yang cerdas lagi pintar agar dia bisa mewarisi ilmu dan kesesatannya. Raja memenuhi permintaannya dan mengirim seorang pemuda kepadanya.

Pemuda ini melewati seorang pendeta manakala dia pulang pergi kepada penyihir. Pemuda ini duduk dan mendengar kepada sang pendeta. Pendeta ini memberikan taktik kepada si pemuda manakala penyihir mulai mencurigainya disebabkan seringnya dia terlambat setelah mampir pada sang pendeta. Pendeta ini berkata kepada pemuda, “Jika tukang sihir itu bertanya kepadamu tentang keterlambatanmu, maka jawablah keluargamu menahanmu. Jika keluargamu yang bertanya, maka katakan bahwa tukang sihir yang membuatmu terlambat.” Dengan ini pemuda itu terbebas dari celaan tukang sihir dan celaan keluarganya.
Suatu hari seekor binatang besar menghalang-halangi jalan orang-orang. Binatang besar ini mungkin binatang buas, seperti singa atau ular yang besar. Pemuda ini melihat bahwa inilah peluang untuk mengetahui kebenaran, apakah pendeta atau tukang sihir. Pemuda ini lalu mengambil batu dan melemparkannya kepada binatang buas itu sambil memohon kepada Tuhannya agar membunuh binatang itu jika perkara pendeta lebih dia cintai daripada perkara penyihir. Binatang itu ternyata mati akibat lemparan batunya. Maka orang-orang mengira bahwa pemuda ini membunuh binatang itu dengan sihirnya yang mumpuni.

Manakala pendeta mengetahui apa yang dilakukan oleh pemuda itu, ilmunya mengatakan kepada dirinya bahwa pemuda ini akan diuji. Pemuda ini tidak melakukan dakwah yang tenang seperti yang dilakukan oleh pendeta, akan tetapi perlawanan yang terbuka. Pendeta ini meminta kepada pemuda agar tidak menunjukkan namanya jika dia diuji. Seorang mukmin memohon keselamatan kepada Alloh. Tetapi jika  diuji, dia harus bersabar.
Alloh telah menyembuhkan orang-orang sakit lewat tangan pemuda ini. Dia menyembuhkan – dengan izin Alloh – kebutaan dan penyakit sopak. Dia menyampaikan kepada manusia bahwa penyembuh adalah Alloh, dan bahwa barangsiapa beriman kepada-Nya, maka Dia menyembuhkannya. Pemuda ini menjadikan pengobatan sebagai sarana penyebaran dakwah dan iman.

Salah seorang kepercayaan raja, di mana orang itu buta, mendengar berita tentang pemuda ini. Dia datang kepada pemuda ini dengan hadiah-hadiah besar agar  si pemuda mengobatinya. Pemuda ini memberitahukan kepadanya bahwa penyembuh adalah Alloh dan barangsiapa beriman kepada-Nya maka pemuda itu akan berdoa kepada-Nya hingga Dia menyembuhkannya. Orang kepercayaan raja ini beriman, maka pemuda itu berdoa dan dia bisa melihat kembali.
Orang buta ini yang telah normal kembali datang kepada majlis raja. Raja terkejut karenanya. Dia bertanya, “Siapa yang telah membuatmu melihat?” Orang ini menjawab, “Tuhanku.” Raja bertanya, “Adakah tuhan lain selain diriku?” Orang ini menjawab, “Tuhanku dan Tuhanmu adalah Alloh.”

Raja murka. Dia mencium cikal bakal fitnah dalam ucapan laki-laki ini yang dapat mengancam kekuasaan dan kerajaannya. Raja thaghut ini telah mendudukkan dirinya sebagai tuhan yang disembah selain Alloh. Dia mengklaim bahwa dirinya adalah tuhan manusia. Tukang sihir dan para pembantu raja yang rusak bekerja siang malam untuk menancapkan keyakinan seperti ini di hati penduduk kerajaan ini. Oleh karena itu, hati raja tergoncang. Dia takut terhadap kekuasaan dan kerajaannya. Maka dia menangkap laki-laki itu dan terus menyiksanya sampai akhirnya dia menyebut nama pemuda itu.
Ketika pemuda itu dihadapkan kepada raja, raja mengira bahwa dia telah menguasai sihir yang sangat tinggi. Akan tetapi, akhirnya raja menyadari bahwa dugaannya meleset. Pemuda ini mengingkari sihir dan penyihir. Pemuda ini tidak memakai ilmunya untuk menopang kerajaannya dan menjadikan rakyat menjadi hamba raja. Pemuda ini mengajak kepada kekufuran kepada raja dan menyeru agar beriman kepada Alloh yang Maha Esa.

Raja ingin mengenal akar fitnah yang muncul di daerah kekuasaannya agar bisa mencabutnya. Maka dia menyiksa anak muda itu sampai dia menunjuk si pendeta. Apa yang ditakutkan oleh pendeta itu benar-benar terjadi padanya, padahal sebelumnya dia telah berpesan kepada pemuda itu agar tidak menyebut namanya jika dia diuji. Pendeta ini diuji agar meninggalkan agamanya tetapi dia menolak. Dia sabar di bawah siksaan. Tubuhnya digergaji oleh orang-orang zhalim hingga terbelah menjadi dua. Begitu pula nasib penasihat raja. Dua orang ini bersabar memikul siksaan. Begitulah laki-laki sejati pada saat menghadapi ujian dan cobaan, mereka membayar harga iman dengan hidup mereka.
Mereka, walaupun mati di depan kezhaliman dan kebengisan, akan tetapi pada hakikatnya mereka menang karena memperoleh ridha Alloh dengan itu, meraih Surganya, dan selamat dari Neraka-Nya. Dan pada hari Kiamat Alloh membalas untuk mereka dengan mencampakkan musuh-musuh mereka ke dalam Neraka.

Raja berusaha untuk membujuk pemuda itu agar meninggalkan agamanya. Raja melihat pemuda ini adalah laki-laki yang bisa diandalkan untuk memperkokoh kerajaannya jika pemuda ini membuang imannya. Pemuda ini memiliki keistimewaan-keistimewaan dan sifat-sifat, dan bisa jadi bapaknya termasuk punggawa kerajaan.
Raja tidak ingin membuat orang tuanya dan kaumnya marah. Manakala cara halus tidak berguna, raja berusaha membunuhnya dengan berbagai cara. Dalam setiap cara raja meminta bala tentaranya agar membawa pulang pemuda itu kepadanya, jika dia murtad dari agamanya. Raja mengira cara ini membuat pemuda itu takut lalu meninggalkan agamanya.

Suatu kali raja mengirim pemuda ini ke puncak gunung yang tinggi agar dilemparkan dari puncaknya ke lembah yang dalam. Pemuda ini berdoa kepada Tuhannya, maka gunung itu terguncang, dan bala tentara raja terjerembab menggelinding ke bawah, sementara pemuda itu pulang kepada raja dengan selamat. Pemuda ini menceritakan apa yang terjadi padanya dan bala tentara raja. Lalu raja mengirimnya dengan perahu ke tengah laut agar dia dibuang di tengah laut jika tidak murtad dari agamanya. Pemuda ini berdoa kepada Tuhannya, maka laut menelan bala tentara raja thaghut dan pemuda itu pulang dengan selamat kepada raja.
Kita lihat bahwa pemuda ini tidak berlari menghindari raja setelah Alloh menyelamatkannya. Bahkan dia kembali kepada raja untuk menantangnya. Hal ini karena pemuda ini tidak mencari keselamatan untuk dirinya, akan tetapi yang dia cari adalah pembelaan terhadap agama Alloh dan menjunjung tinggi kalimat-Nya.

Dan tentu saja orang-orang pasti mengikuti langkah-langkah pemuda ini. Mereka menunggu apa yang terjadi dengannya. Bisa jadi perbuatannya menjadi buah bibir di setiap pertemuan dan perkumpulan Lebih-lebih, pemuda ini menghadapi raja thaghut yang kejam tanpa rasa takut dan gentar. Orang-orang belum pernah menyaksikan hal ini. Raja seperti raja ini adalah raja yang bengis. Dia tidak segan-segan menumpahkan darah dan berbuat kerusakan di muka bumi.
Raja melihat kelemahan dirinya. Dia tidak berhasil membunuh pemuda itu, padahal dia telah mengklaim dirinya sebagai tuhan. Akhirnya pemuda itu menyampaikan cara yang dengannya raja bisa membunuhnya. Pemuda ini menegaskan bahwa cara apa pun untuk membunuhnya pasti gagal kecuali cara yang akan dia berikan.

Pemuda ini meminta raja mengumpulkan rakyat di satu tempat. Dia sendiri disalib di sebatang kayu lalu raja mengambil anak panah dari kantong sang pemuda dan melepaskannya sambil berucap, “Dengan nama Alloh, Tuhan pemuda ini.” Lalu panah pun dilepas.
Begitulah yang terjadi. Panah tepat menembus pelipis sang pemuda. Pemuda itu meletakkan tangannya di pelipisnya lalu mati.

Pemuda ini mati setelah membeberkan cara membunuh dirinya kepada raja, dan setelah menegaskan kepada raja yang mengklaim diri sebagai tuhan bahwa dia tidak mungkin membunuhnya kecuali dengan cara yang telah diletakkannya. Pemuda ini meminta raja mengumpulkan rakyat di tanah lapang lalu mengambil anak panah, bukan sembarang anak panah, tetapi anak panah dari busur pemuda itu, lalu berkata, “Dengan nama Alloh Tuhan pemuda.” Kemudian lepaslah anak panah itu. Jika ini tidak dilakukan, maka raja akan tetap tidak mampu membunuhnya.
Jika ini terjadi pada saat sekarang, niscaya ada sebagian orang yang dangkal pemahamannya terhadap syariat yang menggugat perbuatan pemuda ini. Apakah dia boleh membeberkan cara membunuh dirinya kepada raja? Bukankah itu berarti bunuh diri? Mungkin sebagian orang yang minim ilmunya akan beranggapan demikian.

Bunuh diri adalah perbuatan seseorang yang putus asa dan berlari dari kehidupan. Lain dengan pemuda ini dan yang sepertinya, mereka mengorbankan diri mereka demi menyebarkan iman dan Islam, melawan kejahatan orang-orang yang berbuat jahat, orang-orang kafir, dan orang-orang zhalim.
Pemuda ini tidak bodoh mencari mati. Dia rela mati dengan cara seperti ini, karena dia mencari iman manusia. Orang-orang selalu mengikuti perkembangan sepak terjangnya. Pemuda ini ingin membongkar tembok pembatas yang membuat rakyat takut menghadapi para thaghut yang merusak. Ketakutan terhadap kematian menghalangi manusia mengikuti kebenaran dan menyuarakannya. Pemuda ini datang untuk memberi contoh bagi rakyat. Dia mengorbankan dirinya, padahal dia selalu terjaga dari raja dan para pengikutnya. Mereka tidak bisa sedikit pun mencelakainya, lalu dia membocorkan suatu cara yang dengannya raja bisa membunuhnya.

Hanya sesaat setelah pemuda itu mati, raja pun bernafas lega. Menurut perkiraannya, dia telah memadamkan fitnah dan mencabut akarnya. Tiba-tiba para prajuritnya tergopoh-gopoh melapor, “Apa yang engkau takutkan telah terjadi. Rakyat telah beriman.”
Apa yang dicari dan diinginkan oleh pemuda itu telah terwujud. Pemuda ini telah merobohkan sekat penghalang yaitu rasa takut pada diri rakyat. Sekarang mereka tidak lagi peduli kepada raja dan bala tentaranya. Pengorbanan di jalan Alloh menjadi impian orang-orang yang bertauhid.

Kemarahan raja memuncak melebihi batas-batasnya. Raja memerintahkan agar parit-parit digali dan api dinyalakan di dalamnya. Setiap yang kokoh mempertahankan agamanya, maka dia harus dilepaskan ke dalamnya atau dia sendiri yang mencebur. Orang-orang rela dengan Neraka dunia untuk melindungi diri mereka dari Neraka Akhirat.

Manakala ada seorang wanita yang enggan untuk masuk ke dalam api dan dia hampir mundur, tiba-tiba Alloh membuat anaknya bisa berbicara. Dia meminta ibunya agar bersabar, karena dia berada di atas kebenaran. Itu menjadi tanda besar yang dengannya Alloh meneguhkan hati orang-orang mukmin.
Alloh  telah menyampaikan berita Ashabul Ukhdud dalam surat Al-Buruj. Apa yang dilakukan oleh orang-orang zhalim lagi lalim terhadap orang mukmin. Alloh menjelaskan bahwa sebab dibakarnya orang-orang mukmin adalah karena iman mereka.

“Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Alloh yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji, Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi, dan Alloh Maha Menyaksikan segala sesuatu.” (QS. Al-Buruj: 8-9)

Begitulah orang-orang zhalim dan para thaghut membakar rakyat jika mereka membelot dari jalan yang telah mereka rumuskan. Perkara paling penting dan utama adalah tegaknya kerajaan mereka agar mereka tetap berkuasa. Jika tidak, maka mereka akan membakar yang basah maupun yang kering dan menghancurkan segala sesuatu.

أقوال و فتاوى العلماء في التحذير من جماعة الهجر و التبديع
Tahdzir Ulama Kibar Terhadap Jama’ah
Yang Gemar Menghajr Dan Mentabdi’

Oleh :
Majmu’ Thullabatil Ilmi

Alih Bahasa :
Abu Salma al-Atsari


Syaikh Al-Allamah Abdul Aziz bin Baz

Al-Allamah, al-Mufti al-Alim, Samahatus Syaikh Abdil Aziz bin Abdullah bin Bazz – rahimahullahu- berkata, sebagaimana termuat dalam harian al-Jazirah, ar-Riyadh, asy-Syirqul Awsath, Sabtu 22/6/1412 H, sebagai berikut :
“Telah merebak di zaman ini tentang banyaknya orang-orang yang menisbatkan diri kepada ilmu (tholibul ‘ilm, pent.) dan terhadap dakwah kepada kebajikan (da’i, pent.) yang mencela kehormatan kebanyakan saudara-saudara mereka para du’at yang masyhur dan memperbincangkan kehormatan (menjelekkan, pent.) para thullabul ‘ilm (penuntut ilmu), para du’at dan khatib (penceramah). Mereka melakukannya secara sirriyah (sembunyi-sembunyi) di dalam majelis-majlis mereka, dan bisa jadi ada yang merekamnya di kaset-kaset kemudian disebarkan kepada manusia. Terkadang pula mereka melakukannya secara terang-terangan di dalam muhadharah ‘am (ceramah umum) di masjid-masjid. Cara ini menyelisihi dengan apa-apa yang diperintahkan Allah dan rasul-Nya, dengan beberapa alasan :
Pertama.
Hal ini merusak hak-hak kaum muslimin, dan khususnya para penuntut ilmu dan da’i yang mengerahkan segenap usahanya di dalam mengarahkan manusia, menunjuki mereka dan membenahi aqidah dan manhaj mereka. Mereka bersungguh-sungguh di dalam mengatur/mengelola durus (pelajaran-pelajaran) dan muhadharaat (pengajian-pengajian) serta penulisan buku-buku yang bermanfaat.
Kedua.
Hal ini memecah belah persatuan kaum muslimin dan memporak porandakan barisan mereka, dimana ummat ini lebih membutuhkan kepada persatuan dan menjauhi dari berkelompok-kelompok dan berpecah belah serta menjauhi dari banyaknya qiila wa qoola (perkataan-perkataan yang tidak jelas, pent.) di tengah-tengah ummat. Khususnya kepada du’at yang dicela, padahal mereka adalah termasuk dari ahlis sunnah wal jama’ah yang dikenal akan sikap mereka dalam memerangi bid’ah dan khurofat, memerangi orang-orang yang menyeru kepada bid’ah dan khurafat, dengan cara menyingkapkan kesalahan-kesalahan dan kekurangan mereka (para penyeru bid’ah dan khurafat). Kami tidak melihat adanya mashlahat (kebaikan) di dalam perilaku semacam ini (yaitu mencela para du’at), melainkan akan memberikan maslahat bagi musuh-musuh Islam dari kaum kuffar, munafik, dan ahli bid’ah serta kesesatan.
Ketiga.
Sesungguhnya perbuatan ini (yaitu mencela para du’at), akan membantu dan menolong orang-orang yang menyimpang dari kalangan kaum atheis, sekuler dan lainnya. Dimana mereka ini tersohor akan permusuhannya terhadap para du’at islam dan terkenal akan pengadaan kedustaan terhadap mereka dengan menghasut melalui buku-buku maupun kaset-kaset rekaman. Hal ini (mencela para du’at) bukanlah hak dalam persaudaraan dalam Islam bagi orang-orang yang dengki itu dengan membantu musuh-musuh mereka terhadap saudara-saudara mereka thullabul ‘ilmi dan para du’at.
Keempat.
Hal ini akan menyebabkan rusaknya hati umat ini secara umum dan mereka sendiri secara khusus, dengan menyebarkan dan mengedarkan kedustaan serta merebakkan kebathilan. Hal ini merupakan sebab berkembangnya ghibah, namimah (mengadu domba) dan pembuka pintu-pintu kejahatan bagi orang-orang yang jiwanya lemah, yang mana mereka ini akan menyebarkan syubuhat dan meluaskan fitnah serta mendorong mereka menghancurkan kaum mukminin.
Kelima.
Sesungguhnya kebanyakan perkataan-perkataan tersebut tidaklah berdasar. Sesungguhnya perkataan-perkataan tersebut hanyalah bersumber dari dugaan (imajinasi) yang Syaithan menghiasinya dan memperdayainya. Allah Ta’ala berfirman.
Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah olehmu kebanyakan dari purbasangka, karena sesungguhnya sebagaian purbasangka itu adalah dosa.” [Al-Hujurat : 11-12]
Selayaknyalah bagi seorang muslim membawa ucapan saudaranya seislam pada sebaik-baik tempat (kepada makna yang paling baik). Sebagian Salaf berkata, “Janganlah engkau berprasangka buruk terhadap perkataan yang dilontarkan saudaramu sedangkan engkau dapat membawa perkataan tersebut pada makna yang baik.”
Keenam,
Apa yang didapatkan dari ijtihad sebagian ulama dan penuntut ilmu dari perkara-perkara yang memang memungkinkan di dalamnya berijtihad, maka orang tersebut tidak boleh disalahkan apalagi dicela, jika ia memang ahli ijtihad. Jika sekiranya ada orang lain yang menyelisihinya, selayaknyalah ia berdiskusi dengannya dengan cara yang baik, dengan mengharapkan memperoleh kebenaran dan dengan menolak waswas syaithan yang hendak memecah belah kaum mukminin. Jika hal ini tidak memungkinkan dan ia beranggapan harus menerangkan penyelewengannya, maka hendaklah dengan ungkapan-ungkapan yang baik dan ucapan-ucapan yang lembut tidak kasar tanpa celaan ataupun ucapan yang sia-sia yang dapat menyebabkan seseorang menolak kebenaran atau bahkan menjauhi kebenaran, juga tanpa menyebutkan perorangan atau menuduh niat atau menambah ucapan-ucapan yang tidak dimaksudkannya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda tentang perkara ini, ‘mengapa ada kaum yang berkata demikan dan demikian??
1‘”

Syaikh Al-Allamah Muhammad Nashiruddin Al-Abani
Berkata Syaikh kami yang mulia, al-Muhaddits al-Ashr al-Mujaddid al-Faqih Muhammad Nashirudin al-Albani -Rahimahullah- di dalam kaset Silsilah al-Huda wan Nur ash-Shouthiyah no 784 side A, sebagai berikut :
Syuf (perhatikan) wahai saudaraku! Aku menasehatkanmu dan para pemuda lainnya yang berada di jalan munharif (menyeleweng) sebagaimana tampak pada kami, wallahu a’lam, untuk tidak membuang-buang waktumu untuk mencela satu dengan lainnya dan sibuk dengan mengatakan fulan begini dan fulan berkata begitu. Dikarenakan, pertama, hal ini tidaklah termasuk ilmu sama sekali, dan yang kedua, uslub (cara) ini akan merasuk ke dada dan menyebabkan kedengkian serta kebencian di dalam hati. Wajib atasmu menuntut ilmu!!! Karena ilmulah yang akan menyingkapkan apakah perkataan ini yang mencela Zaid atau fulan dari manusia dikarenakan dirinya memiliki banyak kesalahan, apakah berhak bagi kita untuk menyebutkan shohibul bid’ah atau mubtadi’ ataukah tidak?? Apa yang harus kita lakukan dengan mendalami perkara ini?? Aku tidak menasehatkanmu untuk mendalami seluruh perkara ini dengan benar-benar, karena hakikatnya kita sekalian sedang mengeluhkan perpecahan ini yang terjadi di tengah-tengah orang-orang yang berintisab (menisbatkan diri) pada dakwah al-Kitab dan as-Sunnah, atau sebagaimana kita menyebutnya, Dakwah Salafiyah.!!!
Perpecahan ini, wallahu a’lam, penyebab utamanya adalah dorongan jiwa yang memerintahkan kepada keburukan (an-Nafsul ammarah bis suu`) dan bukanlah perselisihan pada sebagian pemikiran. Inilah nasehatku. karena telah sering aku ditanya, ‘apa pendapatmu tentang fulan?’, dan aku langsung faham bahwa ia (penanya) orang yang memihak atau memusuhi. dan terkadang orang yang ditanyakan adalah diantara saudara-saudara kita terdahulu yang dikatakan dia menyimpang, maka kami bantah penanya tersebut, apa yang engkau inginkan terhadap fulan dan fulan??
Berlaku luruslah sebagaimana engkau diperintahkan! Tuntutlah ilmu! Dengan ilmu engkau akan dapat memilah-milah mana yang thalih dan mana yang shalih, mana yang bathil dan mana yang haq.!!! Kemudian janganlah engkau ini mendengki terhadap saudara seislam dikarenakan ia jatuh kepada beberapa kesalahan. Kami tidak mengatakan salah, namun kami katakan ia menyimpang dalam satu, dua atau tiga perkara, dan perkara lainnya ia tidak menyimpang.
Kita dapati para Imam Ahli Hadits yang menerima haditsnya (orang yang menyimpang) dan disebutkan di dalam riwayatnya ia khariji atau murji`i atau lainnya. Ini semua adalah aib dan kesesatan, namun diperoleh pada timbangan tersebut yang mereka berpegang teguh padanya. Kita tidak menimbang beratnya keburukannya dari kebaikan-kebaikannya atau dua atau tiga keburukannya terhadap banyaknya kebaikannya, dan yang terbesar adalah syahadat Laa ilaaha illa Allah wa Muhammad Rasulullah.”

Syaikh juga berkata tentang definisi siapakah mubtadi’ itu di dalam kaset Silsilah Huda wa Nur ash-Shouthiyah no 785 side B, sebagai berikut :
“Atsar Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu bermanfaat untuk menunjukkan contoh dari terjatuhnya seorang alim kepada bid’ah tidaklah serta merta menjadikannya mubtadi’ dan jatuhnya seseorang kepada perbuatan haram, dengan pernyataan memperbolehkan apa-apa yang diharamkan secara ijtihad, tidak serta merta menjadikannya sebagai pelaku keharaman. Saya katakan, atsar Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu ini menunjukkan bahwasanya ia dulu berdiri menasehati manusia pada hari Jum’at sebelum sholat, berfaidah untuk menunjukkan contoh yang shahih, bahwa bid’ah yang terkadang terjatuh kepada seorang alim, tidaklah dengan demikian ia menjadi seorang mubtadi’.
Sebelum masuk ke jawaban yang lengkap, aku katakan, al-Mubtadi’ adalah berawal dari kebiasaannya mengada-adakan bid’ah di dalam agama, dan tidaklah orang yang mengada-adakan bid’ah, walaupun ia mengamalkannya bukan karena ijtihadnya, namun dari hawa nafsunya, tidak serta merta dikatakan dia mubtadi’!! contoh terjelas yang paling dekat dengan perkara ini adalah, seorang hakim yang dhalim yang terkadang berlaku adil pada sebagian hukum-hukumnya, tidaklah bisa disebut hakim adil, sebagaimana pula seorang hakim yang adil yang terkadang melakukan kedhaliman di sebagian hukum-hukumnya, tidaklah dinamakan dirinya hakim dhalim. Hal ini berkaitan erat dengan kaidah fiqh islami yang menyatakan bahwasanya seorang manusia dilihat dari banyaknya kebaikan atau keburukannya. Jika kita telah mengetahui hakikat ini, maka kita dapat mengetahui siapakah mubtadi’ itu. maka, dengan demikian disyaratkan bagi mubtadi’ dua hal, yaitu pertama, dia bukanlah seorang mujtahid namun hanyalah pengikut hawa nafsu dan kedua, dia menjadikan bid’ahnya sebagai kebiasaan dan agamanya.”


Syaikh Al-Allamah Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
Syaikh al-Imam Faqihuz Zaman, al-Allamah Muhammad bin Sholih al-Utsaimin -rahimahullahu- berkata saat Liqo`ul Babil Maftuh (Pertemuan terbuka) no 1322, sebagai berikut :
“Salafiyyah adalah ittiba’ terhadap manhaj Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan sahabat-sahabatnya, dikarenakan mereka adalah salaf kita yang telah mendahului kita. Maka, ittiba’ terhadap mereka adalah salafiyyah. Adapun menjadikan salafiyyah sebagai manhaj khusus yang tersendiri dengan menyesatkan orang-orang yang menyelisihinya walaupun mereka berada di atas kebenaran, maka tidak diragukan lagi bahwa hal ini menyelisihi salafiyyah!!!
Kaum salaf seluruhnya menyeru kepada Islam dan bersatu di atas Sunnah Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, mereka tidak menyesatkan orang-orang yang menyelisihinya karena perkara takwil/penafsiran yang berbeda, Allahumma, kecuali dalam perkara aqidah, dikarenakan mereka berpandangan bahwa siapa-siapa yang menyelisihinya dalam perkara aqidah, maka telah sesat.
Akan tetapi, sebagian orang yang meniti manhaj salaf pada zaman ini, menjadikan manhajnya dengan menyesatkan setiap orang yang menyelisihinya walaupun kebenaran besertanya. Dan sebagian mereka menjadikan hal ini sebagai manhaj hizbiyah sebagaimana manhaj-manhaj hizbi lainnya yang memecah belah Islam. Hal ini adalah perkara yang harus ditolak dan tidak boleh ditetapkan. Dikatakan, ‘lihatlah kepada madzhab salafus shalih, apa yang mereka perbuat di dalam jalan mereka dan kelapangan dada mereka pada perkara khilaf yang memang diperbolehkan ijtihad di dalamnya, sampai pada taraf mereka berselisih di dalam perkara aqidah dan ilmu. engkau dapati mereka, misalnya, mengingkari Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam melihat Rabbnya dan sebagian lagi menetapkannya, ada lagi yang berpendapat yang ditimbang pada hari kiamat nanti adalah anak dan sebagiannya berpendapat lembaran-lembaran amal-lah yang ditimbang õEngkau dapati pula mereka berselisih di dalam masalah fiqhiyah, baik dalam masalah nikah, faraidh, iddah, jual beli dan lain-lain. Walaupun demikian, mereka tidak saling menyesatkan satu dengan lainnya.
Jadi, salafiyah yang bermakna sebagai suatu kelompok khusus, yang mana di dalamnya mereka membeda-bedakan dan menyesatkan selain mereka, maka mereka bukanlah termasuk salafiyah sedikitpun!!! Dan adapun salafiyah yang ittiba’ terhadap manhaj salaf baik dalam hal aqidah, ucapan, amalan, perselisihan, persatuan, cinta kasih dan kasih sayang sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, ‘permisalan kaum mukminin satu dengan lainnya dalam hal kasih sayang, tolong menolong dan kecintaan, bagaikan tubuh yang satu, jika salah satu anggotanya mengeluh sakit, maka seluruh tubuh akan merasa demam atau ikut sakit.’ [Hadits Riwayat Muslim], maka inilah salafiyah yang hakiki!!!”


Syaikh Al-Allamah Bakr Abu Zaed

Asy-Syaikh al-Allamah Bakr Abu Zaed -hafidhahullahu- berkata dalam bukunya Tashnifun Naasi bain adh-Dhanni wal Yaqin hal 40-41, Cet. I, Darul ‘Aashimah, 1414 H.
“Dan upaya pemecahbelahan ini di tengah-tengah barisan Ahlus Sunnah, untuk kesekian kalinya sesuai dengan apa yang kita ketahui, ditemukan terjadi pada orang-orang yang berintisab (menyandarkan diri) sebagai Ahlus Sunnah sebagai orang-orang yang menentangnya, mereka menjadikan diri mereka menetapi ahlus sunnah dan menyandarkan bagian dari tujuannya untuk memadamkan ‘bara api’ ahlus sunnah. Mereka pun berdiri di jalan dakwah sembari melepaskan kendali lisan-lisan mereka dengan mengadakan kedustaan terhadap kehormatan para du’at, dan mereka temukan di jalan ahlus sunnah ini aral rintangan berupa fanatisme yang serampangan. Sekiranya anda melihat mereka! Orang-orang miskin yang memprihatinkan keadaan dan kerusakan yang ada pada mereka.
Mereka gemar ‘melompat’ dan ‘meloncat’, dan Allahlah yang lebih tahu tentang apa yang mereka upayakan. Anda akan benar-benar mendapatkan pada diri mereka sikap yang ceroboh dan sembrono dalam lamunan mereka yang melayang.
Mereka ‘mengibarkan’ perkara ini tanpa kaidah, seandainya anda berbantah-bantahan dengan salah seorang dari mereka, tatkala itu anda akan melihat modal semangatnya yang menggelegak tanpa bashirah. Yang mencapai akal-akal orang yang sederhana ini adalah semangat untuk menolong sunnah dan mempersatukan ummat, namun merekalah orang yang pertama kali akan menghancurkan sunnah dan mengoyak-ngoyak persatuan ummat…”


Syaikh Al-Allamah Abdul Muhsin al-Abbad
Syaikh al-Allamah Abdul Muhsin al-Abbad -hafidhahullahu- ditanya saat pelajaran (durus ) Sunan Abu Dawud, malam hari, 26 Shafar 1423 H., sebagai berikut :
Pertanyaan : Jika seandainya ada seorang syaikh berbicara mengenai seseorang dan menganggapnya mubtadi’, apakah harus seorang pelajar (tholib) mengambil tabdi’ ini? Ataukah harus mengetahui sebab-sebab tabdi’ terlebih dahulu, dikarenakan terkadang tabdi’ ini dimutlakkan atas seseorang walaupun ia multazim dengan sunnah?
Jawaban : Tidak setiap orang diterima perkataannya dalam perkara ini. Jika datang perkataan dari orang yang semisal Syaikh Ibnu Bazz atau Syaikh Ibnu Utsaimin, iya, mungkin untuk mempercayai ucapannya (mengambilnya, pent.). Adapun dari orang-orang yang ‘merangkak dan merayap’ (gemar menyebarkan desas-desus dan sembrono, pent.), maka tidak diambil perkatannya.
Pertanyaan : Masalah lain, tentang menerima khobar (berita) tsiqoh (orang yang terpercaya), apakah diterima perkataannya secara mutlak tanpa tatsabut? Misalnya dikatakan, fulan tersebut mencela dan memaki shahabat, sebagai contoh, apakah wajib bagiku menerima perkataan ini (langsung) dan menghukuminya (sebagai pencela sahabat, pent.) ataukah aku harus tatsabut?
Jawaban : (Anda) harus tatsabut!!!
Pertanyaan : Walaupun yang berkata demikian adalah salah seorang masyaikh?
Jawaban : Harus tatasabut!!! Orang yang berkata jika ia menisbatkan kepada kitabnya dan kitabnya eksis (maujud), sehingga memungkinkan ummat untuk merujuk kepada kitab ini. Adapun perkataan belaka yang kosong dari pokok (asas) yang disebutkan tentangnya terutama jika orang-orang tersebut masih hidup. Adapun jika ia termasuk dari para pendahulu kita dan dia memang dikenal dengan kebid’ahannya atau termasuk penghulu bid’ah, maka hal ini semua orang telah mengetahuinya, yaitu seperti Jahm bin Shofwan, dan demikianlah tiap-tiap orang yang berkata ia mubtadi’, maka sesungguhnya perkataannya benar, yaitu mengatakannya mubtadi’. Adapun terhadap orang-orang yang melakukan kesalahan sedangkan dia memiliki kesungguhan yang luar biasa dalam berkhidmat terhadap agama, kemudian dia tergelincir, maka seharusnya ummat ini menghukumi terhadapnya pada kesalahannya saja.
Pertanyaan : Jika didapatkan pada seorang alim perkataan yang mujmal (global) di dalam suatu perkara, dan terkadang perkataan mujmal tersebut secara dhohirnya menunjukkan kepada suatu perkara yang salah, dan didapatkan lagi padanya perkataan yang lain yang mufashshol (terperinci ) pada perkara yang sama tentang manhaj salaf, apakah dibawa perkataan seorang alim yang mujmal tersebut kepada perkara yang mufashshol?
Jawaban : Iya, dibawa kepada mufashshol, selama perkara tersebut adalah sesuatu yang masih samar, dan perkara yang jelas dan teranglah yang dianggap.


Syaikh Al-Allamah Sholih Fauzan al-Fauzan

Asy-Syaikh al-Allamah Sholih Fauzan al-Fauzan -hafidhahullahu- berkata saat pengajian tentang Aqidah dan Dakwah (III/69) sebagai berikut :
“Diantara kerusakan-kerusakan perpecahan yang demikian ini adalah mengakibatkan perpecahan di tengah-tengah kaum muslimin, disebabkan disibukkannya mereka satu dengan lainnya dengan mentajrih (mencela) dengan gelar-gelar yang buruk. Tiap-tiap mereka menghendaki memenangkan diri mereka dari yang lainnya dan merekapun menyibukkan kaum muslimin dengan perihal mereka. Yang mana hal ini menjadi melebihi mempelajari ilmu yang bermanfaat. Sesungguhnya banyak dan banyak dari para penuntut ilmu yang bertanya sampai kepada kami bahwa semangat dan kesibukan mereka hanyalah memperbincangkan manusia dan kehormatan mereka, baik di majelis-majelis maupun perkumpulan mereka, sembari menyalahkan ini dan membenarkan itu, memuji ini dan menyatakan itu sesat… Tidaklah mereka ini disibukkan melainkan hanya memperbincangkan manusia..”
Syaikh al-Allamah ditanya saat pengajian tentang Aqidah dan Dakwah (III/57) sebagai berikut :
Pertanyaan : “Apa pendapat yang mulia tentang merebaknya celaan-celaan baik yang tertulis maupun yang didengar yang merebak di kalangan para ulama?? Tidakkah Anda memandang bahwa duduknya mereka untuk diskusi adalah lebih mulia?? Karena betapa banyak aturan-aturan islam yang rusak karena hal ini!!”
Jawaban : “Para ulama yang mu’tabar (dikenal keilmuannya) tidak ada pada diri mereka sedikitpun dari apa yang disebutkan dalam pertanyaan. Mungkin hal ini terjadi diantara para penuntut ilmu dan pemuda yang bersemangat, kami memohon hidayah dan taufiq Allah untuk mereka. Kami menyeru mereka untuk meninggalkan perbuatan tercela ini dan supaya mereka saling bersaudara di atas kebajikan dan ketakwaan, serta mengembalikan kepada para ulama terhadap perkara-perkara yang mereka sulit menentukan kebenarannya, dan agar mereka -para ulama- menjelaskan kepada mereka mana yang benar, dan supaya mereka tidak memberikan pengaruh pada fikiran dengan syubuhat sehingga mereka berpaling dari manhaj yang benar. Namun, janganlah difahami dari hal ini, meninggalkan bantahan terhadap kesalahan dan penyimpangan yang terdapat di sebagian buku-buku termasuk bagian nasehat bagi ummat.”

Syaikh ditanya pula saat pengajian Aqidah dan Dakwah (III/332) sebagai berikut :
Pertanyaan : “Syaikh yang mulia, apakah nasehatmu bagi para pemuda yang meninggalkan menuntut ilmu syar’i dan berdakwah kepada Allah dengan menceburkan dirinya ke dalam masalah perselisihan diantara pada ulama tanpa ilmu dan bashirah??
Jawaban: “Aku nasehatkan kepada seluruh saudara-saudaraku dan khususnya para pemuda penuntut ilmu agar mereka menyibukkan diri dengan menuntut ilmu yang benar, baik di Masjid, sekolah, ma’had maupun di perkuliahan. Agar mereka sibuk dengan pelajaran-pelajaran mereka dan apa-apa yang bermashlahat bagi mereka. Dan supaya mereka meninggalkan menceburkan diri kepada perkara ini -perselisihan ulama-, dikarenakan tidak ada kebaikannya dan tidak bermanfaat masuk ke dalamnya… hanya membuang-buang waktu saja dan merisaukan fikiran…
Hal ini termasuk penghalang amal shalih, termasuk mencela kehormatan dan menghasut kaum muslimin. Wajib bagi kaum muslimin umumnya dan para penuntut ilmu khususnya, supaya meninggalkan perkara ini dan agar mereka mengupayakan perdamaian (ishlah) semampu yang mereka bisa. Allah Ta’ala berfirman, ‘Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara, maka damaikanlah kedua golongan saudara kalian tersebut, bertakwalah kepada Allah semoga engkau dirahmati.” (al-Hujurat : 10). Terhadap orang-orang yang anda lihat melakukan kesalahan, maka wajib bagi anda menasehatinya dan menjelaskan kesalahnnya secara empat mata, dan memohon kepadanya agar ia mau rujuk (kembali) kepada kebenaran. Inilah yang dibutuhkan nasehat.

Syaikh Hafidhahullahu berkata saat pengajian Dhahiratut Tabdi’ wat Tafsiq wat takfir wa Dhawabithuha, sebagai berikut :
“Oleh karena itu, wajib bagi para pemuda Islam dan penuntut ilmu untuk mempelajari ilmu yang bermanfaat dari sumbernya dan dari ahlinya yang dikenal akan keilmuannya. Kemudian setelah itu, mereka akan tahu bagaimana berbicara dan bagaimana meletakkan sesuatu pada tempatnya, karena Ahlus Sunnah dulu maupun sekarang mampu menjaga lisannya dan mereka tidaklah berucap melainkan dengan ilmu..”
Fadhilatus Syaikh Nashir Abdul Karim al-Aql

Asy-Syaikh Nashir bin Abdul Karim al-Aql -hafidhahullahu- berkata saat pengajian Syarh Mujmal I’tiqod Ahlus Sunnah wal Jama’ah sebagai berikut :
“Orang-orang beriman seluruhnya adalah wali Allah dan bagi seluruh mukmin diberikan wala’ (loyalitas) sebatas tingkat keimanannya, demikian pula sebaliknya (diberikan baro’ah (kebencian/berlepas diri) sebatas tingkat kemaksiatannya, pent.).
Orang-orang kafir, seluruhnya adalah wali Syaithan dan tidak ada wala’ sedikitpun bagi orang kafir. Akan tetapi, mukmin yang bermaksiat, diberikan baro’ah kepadanya menurut kadar kemaksiatannya, demikian pula para pelaku bid’ah dari kaum muslimin, diberikan baro’ah menurut tingkat kebid’ahannya, dan bagi mereka wala’ sebatas keimanannya. Oleh karena itu, sesungguhnya orang kafir tidak terkumpul padanya wala’ dan baro’ sekaligus.
Seorang mukmin yang kholish (murni) yang berjalan di atas as-Sunnah, baginya wala dan kecintaan yang sempurna. Jika ditemukan padanya kemaksiatan atau kebid’ahan maka terkumpul padanya dua perkara: yaitu kita berwala’ terhadap kebaikan dan iman yang dimilikinya dan kita membenci terhadap kemaksiatan dan kebid’ahannya. Dengan demikian, mayoritas kaum mukminin pelaku kemaksiatan dan kebid’ahan yang tidak sampai mengeluarkan dari agama… mayoritas mereka… bahkan seluruhnya dari para pelaku kemaksiatan dan bid’ah yang kecil, bagi mereka kecintaan dan wala’ sebatas keimanan dan amal shalih yang ada pada mereka serta baro’ dan kebencian sebatas kemaksiatan dan kebid’ahan mereka.
Kaidah ini jarang dipegang oleh kebanyakan orang-orang yang lemah ilmunya dan dangkal pemahaman agamanya serta bodoh dengan manhaj salaf, sampai-sampai sebagian orang yang mengaku sebagai salafiy juga jatuh kepada hal ini, yaitu mereka memusuhi bid’ah dengan permusuhan yang kamil (sempurna), walaupun terkadang bid’ahnya tidak sampai tingkatan mengeluarkan pelakunya dari agama, dan terkadang pula kebid’ahan tersebut hanya sebagian kecil saja tidak menyeluruh pada seseorang. Sebagaimana pula mereka memusuhi kemaksiatan dengan permusuhan sempurna, atau memusuhi suatu penyelewengan dan kesalahan dengan permusuhan yang sempurna.
Sekarang kita perhatikan dampak dari penerapan perilaku ini, yang marak terjadi di tengah-tengah ahlus sunnah, yang menimbulkan keprihatinan dan percekcokan di dalam permasalahan agama, perkara Ijtihadiyah dan seputar dakwah kepada Allah. Kita dapatkan mereka saling berselisih tentang hal ini dan menerapkan kepada musuh dan lawan mereka sesama ahlus sunnah, baro’ah yang sempurna, sampai mereka membenci mereka, memperbolehkan menjelekkan mereka, menyebarkan aib mereka, mereka berniat karena Allah mendakwahi lawan mereka namun mereka menyebarkan aib mereka dan mentahdzir mereka.
Hal ini menyelisihi ushul (pokok) syariat. Iya memang, jika mereka melakukan kesalahan diperingatkan kesalahan-kesalahannya, namun tetap dengan mengakui keutamaan dan kemampuan yang mereka miliki. Ini adalah perkara dharuri (yang wajib dilakukan) atau jika tidak. akan timbul fitnah di tengah-tengah kaum muslimin. Demikian pula seorang yang menyimpang, wajib diberitahukan padanya, bahwa dirimu selaras dengan kebenaran dalam perkara yang memang benar dan dirimu menyelisihi kebenaran dalam perkara yang memang menyelisihi kebenaran. Dan janganlah mengobarkan kebencian di dada-dada kaum muslimin satu dengan lainnya sebagaimana cara yang dilakukan oleh orang-orang bodoh tadi. Bahkan saya katakan, tidak terlarang, di sini aku contohkan sedikit… termasuk tabiat dan adab islami jika anda berselisih dengan salah seorang saudara anda dan anda memandang ia melakukan kesalahan atau kebid’ahan yang cukup besar, anda memberikannya udzur setelah anda tidak mampu lagi memuaskan dirinya (dengan dalil), dan senantiasa berwala’ seraya mengatakan ‘aku mencintaimu karena Allah terhadap kebaikan dan kelurusan yang anda miliki’… (hal ini) tidak terlarang!!!
saudara-saudaraku yang kucintai karena Allah, hingga sampai-sampai jika ditemukan padanya kesalahan… (maka tidak apa-apa melakukan sebagaimana contoh di di atas, pent.)… yang dengan cara ini akan mendamaikan hati dan menghilangkan kebencian dan kedengkian yang dimiliki kaum mukminin satu dengan lainnya.
Sampai-sampai orang-orang bodoh tadi melupakan baro’ kepada orang kafir dan pelaku bid’ah yang berat, dimana mereka palingkan nash-nash tentang baro’ kepada saudara-saudara mereka. Aku takut mereka akan ditimpa -jika mereka tidak mau taubat dan kembali kepada kebenaran dan manhaj yang lurus- sebagaimana yang disifatkan nabi kepada salah satu kelompok ahlul bid’ah, ‘yang mereka ini memerangi ahlul islam dan membiarkan ahlul awtsan (penyembah berhala)’ yang datang dari hadits shahih ketika mensifatkan sebagian kelompok ahlul bid’ah.
Tentu saja, baro’ yang kamil (sempurna) merupakan jalan kepada peperangan. Seorang manusia yang baro’ kepada saudaranya muslim dengan baro’ yang sempurna berimplikasi terhadap penghalalan darahnya. Walaupun tidak terjadi saat ini saat ini, namun wajib bagi kita untuk berhati-hati dari sikap yang dapat mengeruhkan keadaan ini. Kita perlu tahu bahwa ahlus sunnah terkadang berselisih diantara mereka, terkadang ditemukan pada sebagian ahlus sunnah kesalahan pada manhajnya, akan tetapi tanpa maksud/kesengajaan -dikarenakan ijtihad-, terkadang pula ditemukan pada mereka ketergelinciran yang besar, akan tetapi tanpa kesengajaan yang tidak menyebabkan mereka berpecah belah, dan terkadang pula didapatkan pada sebagian ahlus sunnah suatu kebid’ahan, namun tidak banyak dan tidak termasuk bid’ah yang kategori berat.
Namun, tetap wajib bagi kita menyalahkan terhadap kesalahan yang ada pada mereka, namun kita tetap menganggap mereka, mencintai dan berwala’ terhadap mereka dari perkara-perkara yang benar jika mereka termasuk ahlus sunnah.
Wallahu a’lam. Semoga Sholawat senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan seluruh sahabat-sahabatnya.”


1 Isyarat terhadap hadits yang diriwayatkan Sayyidah Aisyah Radhiyallahu ‘anha ketika berkata, ‘Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam jika menyampaikan sesuatu tentang seseorang beliau tidak berkata, ‘mengapa fulan berkata demikian’, namun beliau berkata, ‘mengapa ada kaum yang berkata demikian dan demikian?’.’ Hadits Shahih diriwayatkan Abu Dawud dalam bab al-Idznu wal Isti’dzan (izin dan meminta izin), lihat Silsilah ash-Shahihah no 2064. 

(dicopy dari : abusalma.net)

Bismillahirrahmanirrahim

Syarh Al-'Aqidah Al-Wasithiyah


MUKADDIMAH

Segala puji bagi Allah, Rab semesta alam. Shalawat dan salam yang lengkap dan sempurna semoga dilimpahkan kepada Nabi dan Rasul paling mulia, Nabi dan Imam kita, Muhammad bin Abdullah, juga kepada segenap keluarga, shahabatnya, dan siapa saja yang mengikuti jejak mereka dengan baik, hingga Hari Kiamat. Amma ba'du.

Kitab "Al-Aqidah Al-Wasithiyah" tulisan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah Ta'ala, adalah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Adapun latar belakang penulisan, dan penamaannya dengan Al-Wasithiyah, ialah : Bahwa seorang Qadhi dari negeri Wasith yang sedang melaksanakan haji datang kepada Syaikhul Islam dan memohon beliau untuk menulis tentang Aqidah Salafiyah yang beliau yakini. Maka, beliau Rahimahullah menulisnya dalam tempo sekali jalsah, (sekali duduk), seusai shalat 'Ashar. Ini merupakan bukti nyata bahwa beliau Rahimahullah memiliki ilmu yang luas dan dikaruniai oleh Allah kecerdasan dan keluasan ilmu yang mengagumkan. Dan itu tidak aneh, karena karunia Allah itu diberikan dan diharamkan bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Kepada Allah Yang Maha Tinggi dan Agung, kita memohon akan keutamaan dan kemuliaan-Nya.

Tidak diragukan lagi bahwa banyak ulama telah melakukan upaya yang besar untuk menjaga, mengajarkan, mengulas, dan mensyarah, terhadap kitab "Al-Aqidah Al-Wasithiyah" ini dan beberapa yang diketahui dari syarah-syarah tersebut antara lain:

1.    "Ar-Raudhah An-Nadiyyah, Syarh Al-'Aqidah Al-Wasithiyah" tulisan Syaikh Zaid bin Fayadh
2.    "Al-Kawasyif Al-Jaliyyah 'An-Ma'ani Al-Aqidah Al-VJasithiyah" tulisan Syaikh Abdul Aziz bin Muhammad'
3.    "Syarh Al-'Aqidah Al-Wasithiyah" tulisan Muhammad Khalil Al-Haras
4.    "At-Ta'liqat Al-Mufidah 'ala Al'Aqidah Al-Wasithiyah" tulisan Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Asy-Syarif

Beberapa syarah tersebut cukup baik dan berhasil menjelaskan makna-makna aqidah tersebut. Adapun dalam syarah ringkas ini, saya melakukan hal-hal sebagai berikut:

Saya mentakhrij hadist-hadits Rasulullah dan menisbahkannya, kadang-kadang kepada sumber aslinya, tapi kadang-kadang cukup saya tunjukkan sumber aslinya tanpa teks. Saya juga menisbahkan ayat-ayat kepada surah dan nomornya, selain saya juga memberikan judul yang sesuai untuk setiap tema, misalnya : “Definisi Al-Firqah An-Najiyah”, "Madzhab Ahlus Sunnah wal Jama'ah tentang Sifat-sifat Allah", "Rukun Iman menurut Firqah Najiyah", Metode Ahlus Sunnah wal Jama'ah dalam Menafikan dan Menetapkan Asma' dan Sifat sifat Allah", "Madzhab Mereka dan Ayat-ayat serta hadits-hadits tentang Asma' dan Sifat-sifat Allah". Kemudian saya membuat judul sendiri untuk masing masing sifat, tapi kadang-kadang saya gabungkan beberapa sifat dalam satu judul. Ini tidak saya maksudkan untuk membatasi, melainkan untuk menyebutkan sifat-sifat yang telah disebutkan oleh penulis. Penulis juga menyebutkan banyak ayat dan hadits, akan tetapi saya hanya menyebutkan satu dalil untuk setiap sifat, dari ayat atau hadits, sementara yang lain saya hapuskan untuk meringkaskan syarah ini. Kemudian saya menyebutkan "Sikap pertengahan Ahlus Sunnah dalam masalah sifat Allah" di antara golongan-golongan lain yang ada. Sikap pertengahan mereka dalam masalah perbuatan manusia, Sikap pertengahan mereka dalam masalah ancaman Allah", Sikap pertengahan mereka mengenai nama-nama Iman dan Dien", "Sikap pertengahan mereka mengenai shahabat-shahabat Rasulullah", "Iman kepada Hari Akhir dan hal-hal yang berkaitan dengannya", "Takdir dengan keempat tingkatannya", "Madzhab Ahlus Sunnah wal Jama'ah tentang Iman dan Dien, Shahabat Rasulullah dan Karamah para wali", serta "Akhlak mulia Ahlus Sunnah wal Jama'ah". Semoga Allah memberikan taufik kepada saya dalam melaksanakan apa yang dicintai dan diridhai-Nya. Shalawat, salam, dan barakah, semoga dilimpahkan Allah kepada hamba dan Rasul-Nya, Muhammad juga kepada segenap keluarga dan shahabatnya.


DEFINISI AL-FIRQAH AN-NAJIYAH (AHLUS SUNNAH WAL JAMA'AH)


Firqah (dengan huruf fa' dikasrahkan) artinya sekelompok manusia. Ia disifati dengan An-Najiyah (yang selamat), dan Al-Manshurah (yang mendapat pertolongan), berdasarkan sabda Rasulullah:

"Akan senantiasa ada sekelompok umatku yang tegar di atas al-haq, yang tidak akan terkena mudharat dari orang yang enggan menolong atau menentang mereka, sehingga datanglah keputusan Allah sedangkan mereka tetap dalam keadaan begitu."

Adapun Ahlus Sunnah wal Jama'ah, adalah merupakan pengganti atau nama lain dari kelompok tersebut. Yang dimaksud dengan As-Sunnah adalah Thariqah (cara/jalan) yang dianut oleh Rasulullah, para sahabat beliau, dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka hingga Hari Kiamat. Adapun Al-Jama'ah, makna asalnya adalah sejumlah orang yang mengelompok. Tetapi, yang dimaksud dengan al-jama'ah dalam pembahasan aqidah ini adalah Salaf (pendahulu) dari umat ini dari kalangan shahabat dan orang-orang yang mengikuti kebaikan mereka, sekalipun hanya seorang yang berdiri di atas kebenaran yang telah dianut oleh jama'ah tersebut.

Abdullah bin Mas'ud berkata :

“Jama'ah adalah apa yang selaras dengan kebenaran, sekalipun engkau seorang diri.”

Dari 'Auf bin Malik yang berkata: Rasulullah bersabda :

"Umat Yahudi berpecah menjadi tujuh puluh satu golongan, satu golongan di jannah sedangkan tujuh puluh golongan di naar. Umat Nasrani berpecah menjadi tujuh puluh dua golongan, tujuh puluh satu golongan di naar sedangkan satu golongan di jannah. Demi Allah, yang jiwaku di tangan-Nya, umatku akan berpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, satu golongan di jannah sedangkan tujuh puluh dua golongan di naar."



RUKUN IMAN MENURUT AL-FIRQAH AN-NAJIYAH


1.    Iman Kepada Allah Ta'ala
Iman kepada Allah adalah keyakinan yang kuat bahwa Allah adalah Rabb dan Raja segala sesuatu, Dialah Yang Mencipta, Yang Memberi Rezki, Yang Menghidupkan, dan Yang Mematikan, hanya Dia yang berhak diibadahi. Kepasrahan, kerendahan diri, ketundukan, dan segala jenis ibadah tidak boleh diberikan kepada selain-Nya. Dia memiliki sifat-sifat kesempurnaan, keagungan, dan kemuliaan, serta Dia bersih dari segala cacat dan kekurangan.

2.    Iman Kepada Para Malaikat Allah
Iman kepada malaikat adalah keyakinan yang kuat bahwa Allah memiliki malaikat-malaikat, yang diciptakan dari cahaya. Mereka, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Allah, adalah hamba-hamba Allah yang dimuliakan. Apapun yang diperintahkan kepada mereka, mereka laksanakan. Mereka bertasbih siang dan malam tanpa berhenti. Mereka melaksanakan tugas masing-masing sesuai dengan yang diperintahkan oleh Allah, sebagaimana disebutkan dalam riwayat-riwayat mutawatir dari nash-nash Al-Qur'an maupun As-Sunnah. Jadi, setiap gerakan di langit dan bumi, berasal dari para malaikat yang ditugasi di sana, sebagai pelaksanaan perintah Allah Azza wa Jalla. Maka, wajib mengimani secara tafshil (terperinci), para malaikat yang namanya disebutkan oleh Allah, adapun yang belum disebutkan namanya, wajib mengimani mereka secara ijmal 'global'.

3.    Iman Kepada Kitab-kitab
Maksudnya adalah, meyakini dengan sebenar benarnya bahwa Allah memiliki kitab-kitab yang diturunkan-Nya kepada para nabi dan rasul-Nya, yang benar-benar merupakan Kalam (firman, ucapan)- Nya. Ia adalah cahaya dan petunjuk. Apa yang dikandungnya adalah benar. Tidak ada yang mengetahui jumlahnya selain Allah. Wajib beriman secara ijmal, kecuali yang telah disebutkan namanya oleh Allah, maka wajib untuk mengimaninya secara tafshil, yaitu: Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Qur'an. Selain wajib mengimani bahwa Al-Qur'an diturunkan dari sisi Allah, wajib pula mengimani bahwa Allah telah mengucapkannya sebagaimana Dia telah mengucapkan seluruh kitab lain yang diturunkan. Wajib pula melaksanakan berbagai perintah dan kewajiban serta menjauhi berbagai larangan yang terdapat di dalamnya. Al-Qur'an merupakan tolok ukur kebenaran kitab-kitab terdahulu. Hanya Al-Qur'an saja yang dijaga oleh Allah dari pergantian dan perubahan. Al-Qur'an adalah Kalam Allah yang diturunkan, dan bukan makhluk, yang berasal dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya.

4.    Iman Kepada Para Rasul
Iman kepada rasul-rasul adalah keyakinan yang kuat bahwa Allah telah mengutus para rasul untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya. Kebijaksanaan-Nya telah menetapkan bahwa Dia mengutus para rasul itu kepada manusia untuk memberi kabar gembira dan ancaman kepada mereka. Maka, wajib beriman kepada semua rasul secara ijmal (global) sebagaimana wajib pula beriman secara tafshil (rinci) kepada siapa di antara mereka yang disebut namanya oleh Allah, yaitu 25 di antara mereka yang disebutkan oleh Allah dalam Al-Qur'an. Wajib pula beriman bahwa Allah telah mengutus rasul-rasul dan nabi-nabi selain mereka, yang jumlahnya tidak diketahui oleh selain Allah, dan tidak ada yang mengetahui nama nama mereka selain Allah Yang Maha Mulia dan Maha Tinggi. Wajib pula beriman bahwa Muhammad adalah yang paling mulia dan penutup para nabi dan rasul, risalahnya meliputi bangsa jin dan manusia, serta tidak ada nabi setelannya.

5.    Iman Kepada Kebangkitan Setelah Mati
Iman kepada kebangkitan setelah mati adalah keyakinan yang kuat tentang adanya negeri akhirat. Di negeri itu Allah akan membalas kebaikan orang-orang yang berbuat baik dan kejahatan orang-orang yang berbuat jahat. Allah mengampuni dosa apapun selain syirik, jika Dia menghendaki. Pengertian al-ba'ts, (kebangkitan) menurut syar'i adalah dipulihkannya badan dan dimasukkannya kembali nyawa Ke dalamnya, sehingga manusia keluar dari kubur seperti belalang-belalang yang bertebaran dalam keadaan hidup dan bersegera mendatangi penyeru. Kita memohon ampunan dan kesejahteraan kepada Allah, baik di dunia maupun di akhirat.

6.    Iman Kepada Takdir Yang Baik Maupun Yang buruk Dari Allah Ta'ala.
Iman kepada takdir adalah meyakini secara sungguh-sungguh bahwa segala kebaikan dan keburukan itu terjadi karena takdir Allah. Allah telah mengetahui kadar dan waktu terjadinya segala sesuatu sejak zaman azali, sebelum menciptakan dan mengadakannya dengan kekuasaan dan kehendak-Nya, sesuai dengan apa yang telah diketahui-Nya itu. Allah telah menulisnya pula di Lauh Mahfuz sebelum menciptakannya.

Banyak sekali dalil mengenai keenam rukun Iman ini, baik dari Al-Qur'an maupun As-Sunnah. Di antaranya adalah firman Allah Ta'ala :

"Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebaktian, akan tetapi sesungguhnya kebaktian itu ialah beriman kepada Allah, Hari Kemudian, Malaikat-malaikat, dan Nabi-nabi...'' (Al-Baqarah : 177)

"Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut qadar (ukuran)." (Al-Qamar : 49 )

Juga sabda Nabi dalam hadits Jibril:

"Hendaklah engkau beriman kepada Allah, malaikat malaikat-Nya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, dan hari akhir. Dan engkau beriman kepada takdir Allah, yang baik maupun yang buruk."



MADZHAB AHLUS SUNNAH WAL JAMA'AH SECARA IJMAL MENGENAI SIFAT-SIFAT ALLAH


Ahlus Sunnah wal Jama'ah menetapkan sifat sifat Allah Ta'ala, tanpa ta'ihil, tamtsil, tahrif, dan takyif  Mereka mempercayainya sebagaimana tersebut dalam nash Al-Qur'an dan Al-Hadits.

1.    Tahrif

Tahrif secara bahasa berarti merubah dan mengganti. Menurut pengertian syar'i berarti: merubah lafazh Al-Asma'ul Husna dan Sifat-sifat-Nya Yang Maha Tinggi, atau makna-maknanya. Tahrif ini dibagi menjadi dua :

Pertama :    Tahrif dengan cara menambah, mengurangi, atau merubah bentuk lafazh. Contohnya adalah ucapan kaum Jahmiyah, dan orang-orang yang mengikuti pemahaman mereka, bahwa istawa  Adalah istaula  Disini ada penambahan huruf lam ( J ). Demikian pula perkataan orang-orang Yahudi, “Hinthah”  ketika mereka diperintah untuk mengatakan “Hiththah”  Contoh lain adalah perkataan Ahli Bid'ah yang memanshubkan  lafazh Allah dalam ayat :

"Dan Allah berbicara kepada Musa dengan langsung. "(An-Nisa' : 164).

Kedua :    Merubah makna. Artinya, tetap membiarkan lafazh sebagaimana aslinya, tetapi melakukan perubahan terhadap maknanya. Contohnya adalah perkataan Ahli Bid'ah yang menafsirkan Ghadhab (marah) dengan iradatul intiqam (keinginan untuk membalas dendam). Rahmah (kasih sayang) dengan iradatul in'am (keinginan untuk memberi nikmat). Dan Al-Yadu (tangan) dengan an-ni'mah (nikmat).


2.    Ta'thil

Ta'thil secara bahasa berarti meniadakan. Adapun menurut pengertian syar'i adalah : meniadakan sifat sifat Ilahiyah dari Allah Ta'ala, mengingkari keberadaan sifat-sifat tersebut pada Dzat-Nya, atau mengingkari sebagian darinya. Jadi, perbedaan antara tahrif dan ta'thil yaitu : ta'thil adalah penafian suatu makna yang benar, yang ditunjukkan oleh Al-Qur'an dan As-Sunnah, sedangkan tahrif adalah penafsiran nash nash Al-Qur'an dan As-Sunnah dengan interpretasi yang bathil.

MACAM-MACAM TA'THIL

Ta'thil ada bermacam-macam:

1.    Penolakan terhadap Allah atas kesempurnaan sifat-Nya yang suci, dengan cara meniadakan Asma' dan Sifat-sifat-Nya, atau sebagian darinya, sebagaimana yang dilakukan oleh para penganut paham Jahmiyah dan Mu'tazilah.

2.    Meninggalkan muamalah dengan-Nya, yaitu dengan cara meninggalkan ibadah kepada-Nya, baik secara total maupun sebagian, atau dengan cara beribadah kepada selain-Nya di samping beribadah kepada-Nya.

3.    Meniadakan pencipta bagi makhluk. Contohnya adalah pendapat orang-orang yang mengatakan: Sesungguhnya, alamlah yang menciptakan segala sesuatu dan yang mengatur dengan sendirinya.

Jadi, setiap orang yang melakukan tahrif pasti juga melakukan ta'thil, akan tetapi tidak semua orang yang melakukan ta'thil melakukan tahrif. Barangsiapa yang menetapkan suatu makna yang batil dan menafikan suatu makna yang benar, maka ia seorang pelaku tahrif sekaligus pelaku ta'thil. Adapun orang yang menafikan sifat, maka ia seorang mu'athil (pelaku ta'thil), tetapi bukan muharif (pelaku tahrif).


3.    Takyif

Takyif artinya bertanya dengan kaifa (bagaimana). Adapun yang dimaksud takyif di sini adalah menentukan dan memastikan hakekat suatu sifat, dengan menetapkan bentuk/keadaan tertentu untuknya. Meniadakan bentuk/keadaan bukanlah berarti masa bodoh terhadap makna yang dikandung dalam sifat-sifat tersebut, sebab makna tersebut diketahui dari bahasa Arab. Inilah paham yang dianut oleh kaum salaf, sebagaimana dituturkan oleh Imam Malik Rahimahullah Ta'ala ketika ditanya tentang bentuk/keadaan istiwa' -bersemayam-. Beliau Rahimahullah menjawab :

"Istiwa itu telah diketahui (maknanya), bentuk/keadaannya tidak diketahui, mengimaninya wajib, sedangkan menanyakannya bid'ah."

Semua sifat Allah menunjukkan makna yang hakiki dan pasti. Kita mengimani dan menetapkan sifat tersebut untuk Allah, akan tetapi kita tidak mengetahui bentuk, keadaan, dan bentuk dari sifat tersebut. Yang wajib adalah meyakini dan menetapkan sifat-sifat tersebut maupun maknanya, secara hakiki, dengan memasrahkan bentuk/keadaannya. Tidak sebagaimana orang-orang yang tidak mau tahu terhadap makna-maknanya.


4.    Tamtsil

Tamtsil artinya tasybih, menyerupakan, yaitu menjadikan sesuatu yang menyerupai Allah Ta'ala dalam sifat-sifat Dzatiyah maupun Fi'liyah-Nya. Tamtsil ini dibagi menjadi dua, yaitu:

Pertama :    Menyerupakan makhluk dengan Pencipta. Misalnya orang-orang Nasrani yang menyerupakan Al-Masih putera Maryam dengan Allah Ta'ala dan orang-orang Yahudi yang menyerupakan 'Uzair dengan Allah pula. Maha Suci Allah dari itu semua.

Kedua :    Menyerupakan Pencipta dengan makhluk. Contohnya adalah orang-orang yang mengatakan bahwa Aliah mempunyai wajah seperti wajah yang dimiliki oleh makhluk, memiliki pendengaran sebagaimana pendengaran yang dimiliki oleh makhluk, dan memiliki tangan sebagaimana tangan yang dimiliki oleh makhluk, serta penyerupaan-penyerupaan lain yang bathil. Maha Suci Allah dari apa yang mereka ucapkan.

ILHAD TERHADAP ASMA' DAN SIFAT-SIFAT ALLAH


Pengertian ilhad terhadap Asma' dan Sifat-sifat Allah adalah menyimpangkan nama-nama dan sifat sifat Allah, hakekat-hakekatnya, atau makna-maknanya, dari kebenarannya yang pasti. Penyimpangan ini bisa berupa penolakan terhadapnya secara total atau pengingkaran terhadap makna-maknanya, atau pembelokannya dari kebenaran dengan menggunakan interpretasi yang tidak benar, atau penggunaan nama-nama tersebut untuk menyebut hal-hal yang bid'ah, sebagaimana yang dilakukan oleh para penganut paham "lttihad". Jadi, yang termasuk dalam kategori ilhad adalah tahrif, ta'thil, takyif, tamtsil dan tasbih.




METODE AHLUS SUNNAH WAL JAMA'AH DALAM MENIADAKAN DAN MENETAPKAN ASMA' DAN SIFAT BAGI ALLAH


Ahlus Sunnah wal Jama'ah menetapkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah untuk diri-Nya secara tafshil, dengan landasan firman Allah :

"Dan Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat." (Asy-Syura : 11).

Karena itu, semua nama dan sifat yang telah ditetapkan oleh Allah bagi diri-Nya atau oleh Rasulullah, mereka tetapkan untuk Allah, sesuai dengan keagungan sifat-Nya. Sebaliknya, Ahlus Sunnah wal Jama'ah menafikan apa yang telah dinafikan oleh Allah dari diri-Nya, atau oleh rasul-Nya, dengan penafian secara ijmal, berdasarkan kepada firman Allah :

"Tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya..." Asy-Syura : 11

Penafian sesuatu menuntut penetapan terhadap kebalikannya, yaitu kesempurnaan. Semua yang dinafikan oleh Allah dari diri-Nya, berupa kekurangan atau persekutuan makhluk dalam hal hal yang merupakan kekhususan-Nya, menunjukkan ditetapkannya kesempurnaan-kesempurnaan yang merupakan kebalikannya. Allah telah memadukan penafian dan penetapan dalam satu ayat. Maksud saya penafian secara ijmal dan penetapan secara tafshil yaitu dalam firman Allah :

"Tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya dan Dia Maha Mendengar lagi Melihat." (Asy-Syura : 11)

Ayat ini mengandung tonzih -penyucian- Allah dari penyerupaan dengan makhluk-Nya, baik dalam dzat, sifat, maupun perbuatanNya. Bagian awal ayat di atas merupakan bantahan bagi kaum Musyabbihah (yang menyerupakan Allah), yaitu firman Allah Ta'ala:

"Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya ..."

Adapun bagian akhir dari firman Allah tersebut merupakan bantahan bagi kaum Mu'athilah -yang melakukan ta'thil-, yaitu firman Allah:

"Dan Dia Maha Mendengar lagi Melihat."

Pada bagian pertama terkandung penafian secara ijmal sedangkan pada bagian terakhir terkandung penetapan secara tafshil. Ayat di atas juga mengandung bantahan bagi kaum Asy'ariyah yang mengatakan bahwa Allah mendengar tanpa pendengaran dan melihat tanpa penglihatan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah Ta'ala mencantumkan ayat diatas, berikut surah Al-Ikhlas dan ayat Al-Kursi, karena surah Al-Ikhlas dan ayat-ayat tersebut mengandung penafian dan penetapan." Surah Al-Ikhlas memiliki bobot yang sebanding dengan sepertiga Al-Qur'an, sebagaimana dinyatakan oleh Rasulullah . Para ulama menyebutkan penafsiran sabda beliau itu, bahwa Al-Qur'an diturunkan dengan tiga macam kandungan, yaitu : Tauhid, kisah-kisah, dan hukum-hukum, sedangkan surah Al-Ikhlas ini mengandung tauhid dengan ketiga macamnya, yaitu: Tauhid Uluhiyah, Tauhid Rububiyah, dan Tauhid Asma' wa Shifat. Karena itulah ia dikatakan sebanding dengan sepertiga AlQur'an .

Ayat Al-Kursi adalah ayat yang agung, bahkan merupakan ayat yang paling agung di dalam AlQur'an . Itu disebabkan, ia mengandung nama-nama Allah Yang Maha Indah dan sifat-sifat-Nya Yang Maha Tinggi. Nama-nama dan sifat-sifat tersebut terkumpul di dalamnya, yang tidak terkumpul seperti itu dalam ayat lainnya. Karena itu, ayat yang mengandung makna-makna agung ini layak untuk menjadi ayat yang paling agung dalam Kitabullah .



MADZHAB AHLUS SUNNAH WAL JAMA'AH TENTANG ASMA' DAN SIFAT-SIFAT ALLAH SECARA TAFSHIL


Madzhab Ahlus Sunnah wal Jama'ah adalah madzhab kaum salaf Rahimahumullah Ta'ala. Mereka beriman kepada apa saja yang disampaikan oleh Allah mengenai diri-Nya di dalam kitab-Nya dan oleh Rasulullah dengan keimanan yang bersih dari tahrif dan ta'thil serta dari takyif dan tamtsil. Mereka menyatukan pembicaraan mengenai sifat sifat Allah dengan pembicaraan mengenai Dzat-Nya, dalam satu bab. Pendapat mereka mengenai sifat-sifat Allah sama dengan pendapat mereka mengenai Dzat-Nya. Bila penetapan Dzat adalah penetapan tentang keberadaannya, bukan penetapan tentang 'bagaimana'nya, maka seperti itu pulalah penetapan sifat. Menurut mereka, wajib mengimani nama-nama dan sifat-sifat Allah yang telah ditegaskan oleh Al-Qur'an dan As-Sunnah, atau oleh salah satu dari keduanya. Nama-nama dan sifat-sifat tersebut wajib diimani sebagaimana yang disebutkan dalam nash, tanpa takyif, wajib diimani berikut makna-makna agung yang terkandung didalamnya yang merupakan sifat-sifat Allah Azza wa ]alla. Wajib mensifati Allah dengan makna sifat-sifat tersebut, dengan penyifatan yang layak bagi-Nya, tanpa tahrif, ta'thil, takyif, atau tamtsil

Ahlus Sunnah wal Jama'ah tidak mengkiaskan Allah dengan makhluk-Nya, karena mereka tidak memperbolehkan penggunaan berbagai kias (analogi) yang mengandung konsekuensi penyerupaan dan penyamaan antara apa yang dikiaskan dengan apa yang menjadi obyek pengkiasan dalam masalah-masalah Ilahiyah. Karena itu mereka tidak menggunakan kias tamtsil dari kias syumul terhadap Allah Ta'ala. Terhadap Allah mereka menggunakan kias aula. Inti kias ini adalah bahwa setiap kesempurnaan yang terdapat pada makhluk, tanpa kekurangan dipandang dari berbagai segi, maka Al-Khaliq lebih layak untuk memilikinya, sebaliknya setiap sifat kekurangan dihindari oleh makhluk, maka Al-Khaliq lebih layak untuk terhindar darinya.


AYAT-AYAT DAN HADITS-HADITS TENTANG SIFAT-SIFAT ALLAH


Setelah Syaikhul Islam Rahimahullah Ta'ala menyebutkan akidah Firqah Najiyah secara ijmal, yaitu: Iman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, Hari Akhir dan takdir yang baik maupun yang buruk dari Allah, maka beliau mulai menjelaskan hal itu secara mendetail. Beliau Rahimahullah menyebutkan bahwa di antara manifestasi iman kepada Allah adalah iman kepada apa yang disifatkan oleh-Nya untuk diri-Nya, atau oleh Rasul-Nya, tanpa tahrif, ta'thil, takyif atau tamtsil.

Beliau Rahimahullah lalu menyebutkan sejumlah ayat dan hadits sahih yang di situ Rasulullah menetapkan Sifat-sifat Allah 'Azza wa Jalla, dengan penetapan yang laik bagi-Nya. Dalam hal ini, beliau Rahimahullah bermaksud menegaskan bahwa tidak ada jalan bagi seorang muslim untuk mengetahui Sifat-sifat Rabbnya yang Maha Tinggi dan Asma'-Nya yang Maha Indah, melainkan melalui perantaraan wahyu. Asma' dan Sifat-sifat Allah itu bersifat tauqifiyah (hanya bisa diketahui dari Allah). Maka, apapun yang ditetapkan oleh Allah bagi diri-Nya, atau oleh Rasulullah, kita meyakininya. Demikian pula, apa yang dinafikan oleh Allah dari diri-Nya, atau oleh Rasulullah, kita menafikannya. Cukuplah bagi kita informasi yang datang dari AlQur'an dan As-Sunnah yang shahih ini.

Di antara ayat dan hadits yang disebutkan oleh beliau Rahimahullah adalah sebagai berikut:

1.    Sifat Al-'Izzah (Perkasa)

"Maha Suci Rabbmu, Yang Memiliki Keperkasaan (lzzah), dari apa yang mereka katakan. Keselamatan semoga dilimpahkan kepada para rasul. Dan segala puji bagi Allah, Rabb seru sekalian alam." (Ash-Shafat : 180-182)

Dalam ayat ini, Allah me-Mahasucikan diri-Nya dari apa yang disifatkan, oleh orang-orang yang menyelisihi para rasul, kepada-Nya, serta memberikan keselamatan kepada para rasul dikarenal an perkataan mereka bersih dari kekurangan dan cela.

2.    Sifat Al-lhathah (Meliputi)

"Dialah yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu." (Al-Hadid : 3)

Firman Allah di atas ditafsirkan dengan sabda Rasulullah :

"Ya Allah, Engkaulah Al-Awwal, maka tidak ada sesuatu pun sebelum-Mu; Engkaulah Al-Akhir, maka tidak ada sesuatu pun sesudah-Mu; Engkaulah Azh-Zhahir, maka tidak ada sesuatu pun di atas-Mu;dan Engkaulah Al-Bathin, maka tidak ada sesuatu pun di bawah-Mu."

Ayat dan hadits di atas menunjukkan sifat Allhathah Az-Zamaniyah (meliputi waktu) yaitu pernyataan, "Dialah Al-Awwal dan Al-Akhir; serta Allhathah Al-Makaniyah (meliputi tempat), yaitu pernyataan, "Dar Azh-Zhahir dan Al-Bathin."

3.    Sifat Al-Ilmu (Mengetahui), 4.    Sifat Al-Hikmah (Bijaksana), 5.    Sifat Al-Khibrah (Mengetahui)

"Sesungguhnya, Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (Yusuf : 100).

"Dan Dialah yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui." (Al-An'am : 18)

Al-Ilmu merupakan salah satu sifat Dzatiyah yang tidak akan pernah lepas dari Allah Ta'ala. Ilmu Allah meliputi segala sesuatu, secara global maupun terperinci. Kebijaksanaan Allah berlaku didunia maupun di akhirat. Apabila Allah menyempurnakan sesuatu, maka sesuatu itu tidak mengandung kerusakan. Allah telah menciptakan manusia dan Dia Maha Suci, Maha Bijaksana, lagi Maha Mengetahui .

6.    Sifat Ar-Rizq (Memberi Rezki), 7. Al-Quwwah (Kuat), 8. Al-Matanah (Kokoh)

"Sesungguhnya Allah Maha Pemberi Rezki, Yang Mempunyai Kekuatan, dan Yang Sangat Kokoh." (Adz-Dzariat : 58)

Ar-Razzaq artinya Yang banyak memberi rezki secara luas (sebagaimana ditunjukkan oleh shighah mubalaghah bentuk kata yang menyangatkan. Apapun rezki yang ada di alam semesta ini berasal dari Allah Ta'ala. Rezki itu ada dua.

Pertama:    Rezki yang manfaatnya berlanjut sejak di dunia hingga di akhirat, yaitu rezki hati. Contohnya : Ilmu, iman, dan rezki halal.

Kedua :    Rezki yang secara umum diberikan kepada seluruh manusia, yang shalih maupun yang jahat, termasuk binatang dan lain-lain.

Allah memiliki sifat Al-Quwwah (Kekuatan), Al-Qawiy artinya adalah Syadidul Quwwah (Sangat Kuat). Maka, Al-Qawiy merupakan salah satu nama-Nya, yang berarti Yang Memiliki Sifat Kuat. Adapun Al- Matin berarti Yang Memiliki Puncak Kekuatan dan Kekuasaan

9.    As-Sam'u (Mendengar), 10. Al-Bashar (Melihat)

"Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (Asy-Sura: 11)

Di antara sifat-sifat Dzatiyah Allah adalah AsSam'u dan Al-Bashar. Jadi, Allah memiliki sifat mendengar dan melihat, sesuai dengan keagungan-Nya, tidak sebagaimana mendengar dan melihatnya makhluk-Nya. Bahkan, pendengaran-Nya meliputi segala hal yang terdengar, dan Dia Melihat dan menyaksikan segala sesuatu, sekalipun sesuatu tersebut tersembunyi secara lahir maupun batin . Seorang penyair berkata :

Duhai Dzat Yang Melihat nyamuk,
ketika mengembangkan sayapnya
Di kegelapan malam yang pekat dan kelam
Dan Melihat urat syaraf di lehernya
juga otak yang didalam tulang-tulang
nan amat mungil itu
Berikanlah kepadaku, ampunan yang menghapuskan
Dosa-dosa yang kulakukan, sejak kali pertama


11.    Sifat Al-Iradah, 12. Sifat Al-Masyi'ah (Menghendaki)

"Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya." (Al-Baqarah : 253)

"Barangsiapa yang Allah berkehendak untuk memberikan petunjuk kepadanya, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk) Islam. Dan barangsiapa yang Allah berkehendak untuk menyesatkannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolaholah ia sedang mendaki ke langit. "(Al-An'am : 125)

Iradah (kehendak) Allah terbagi menjadi dua :

1.    Al-Iradah Al-Kauniyah

Al-Iradah Al-Kauniyah ini bersinonim dengan Al-Masyi'ah. Iradah Kauniyah atau Masyi'ah ini, berkenaan dengan apa saja yang hendak dilakukan dan diadakan oleh Allah tll Apabila Allah menghendaki terjadinya sesuatu, maka sesuatu itu terjadi begitu Dia menghendakinya. Sebagaimana firman Allah Ta'ala :

"Sesungguhnya perintah-Nya, apabila Dia menghendaki sesuatu, hanyalah berkata kepadanya "Kun" (Jadilah), maka terjadilah." (Yasin : 82).


Jadi, apapun yang dikehendaki oleh Allah, niscaya terjadi, sedangkan apapun yang dikehendaki Allah untuk tidak terjadi, niscaya tidak terjadi.

2.    Al-Iradah Asy-Syar'iyah

Iradah ini berkaitan dengan apa saja yang diperintahkan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya, berupa hal-hal yang dicintai dan diridhai-Nya. Iradah ini disebutkan, misalnya, dalam firman Allah Ta'ala :
      
"Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu."(Al-Baqarah : 185)


PERBEDAAN ANTARA KEDUA IRADAH INI

Al-Iradah Al-Kauniyah Al-Qadariyah bersifat umum, meliputi seluruh peristiwa dan apapun yang terjadi di jagad raya ini, entah berupa kebaikan maupun keburukan, kekafiran maupun keimanan, dan ketaatan maupun kemaksiatan.

Adapun Al-Iradah Ad-Diniyah Asy-Syar'iyah bersifat khusus berkaitan dengan apa saja yang dicintai dan diridhai oleh Allah, yang dijelaskan di dalam Al-Kitab dan As-sunah.

Kedua Iradah di atas berpadu pada diri seorang hamba yang taat. Adapun orang yang bermaksiat dan kafir hanya mengikuti Al-Iradah Al-Kauniyah Al Qadariyah. Artinya, ketaatan seseorang itu sesuai dengan iradah (kehendak) Allah, baik Al-Iradah Ad-Diniyah Asy-Syar'iyah maupun Al-Iradah Al-Kauniyah Al-Qadariyah. Adapun orang kafir, perbuatannya itu sesuai dengan iradah kauniyah qadariyah, tetapi tidak sesuai dengan iradah diniyah syar'iyah

13.    Sifat Al-Mahabbah (Cinta), 14.    Al-Mawaddah (Cinta yang Murni)

"Dan berbuat baiklah, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik." (Al-Baqarah : 195)

Cinta Allah itu merupakan sifat yang sesuai dengan keagunganNya, sebagaimana telah dijelaskan di muka. Ia merupakan sifat Fi'liyah, yang muncul disebabkan dilaksanakannya perintah Allah, yaitu ibadah kepada Allah dengan baik dan perbuatan baik kepada hamba-hamba-Nya. Demikian halnya sifat Mawaddah. Karena Allah berfirman :

 "Dan Dia Maha Pengampun dan Maha Pencinta dengan kecintaan yang murni." (Al-Buruj : 14)

Al-Wudd artinya kecintaan yang bersih dan murni.


15.    Sifat Ar-Rahmah (Kasih Sayang), 16. Al-Maghfirah (Mengampuni)

"Wahai Rabb kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu." (Ghafir : 7)

"Dan Dia Yang memberikan ampunan dan kasih sayang." (Yunus : 107)

Pada ayat pertama, Allah menetapkan sifat rahmah bagi diriNya, sedangkan pada ayat kedua, Allah tlfe menetapkan sifat Maghfirah. Kita menetapkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi diri-Nya, dengan artian yang layak bagi-Nya


17.    Sifat Ar-Ridha, 18. Al-Ghadhab (Marah), 19. As-Sukht (Murka)

20.    Al-La'n (Melaknat), 21.    Al-Karahiyah (Benci), 22. Al-Asaf (Marah), 23.    Al-Maqt (Murka)

"Allah meridhai mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya." (Al-Bayyinah : 8)

"Dan barangsiapa membunuh seorang mukmin secara sengaja, maka balasannya adalah Jahannam, ia kekal di dalamnya, sedangkan Allah marah dan melaknatnya." (An-Nisa' : 43)

"Itu dikarenakan mereka mengikuti apa yang menjadikan Allah murka dan mereka membenci keridhaan-Nya." (Muhammad : 28)

"Maka ketika mereka telah menyebabkan Kami marah, maka Kami menghukum mereka." (Az-Zukhruf: 55)

"Amat besarlah kemurkaan di sisi Allah, jika kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan." (Ash-Shaf : 3)

"Tetapi Allah membenci keberangkatan mereka." (At-Taubah : 46)

Dalam ayat-ayat ini, Allah menetapkan bagi diri-Nya sifat Al-Ghadhab, marah, As-Sukht, murka, Ar-Ridhoi, Al-La'n (melaknat), Al-Karahiyah (benci), Al-Asaf (marah), serta Al-Maqt (murka). Ini semua merupakan sifat-sifat Af’al (perbuatan) yang dilakukan oleh Allah 'Azza wa Jalla, bila Dia menghendaki. Selain menetapkan sifat-sifat Dzatiyah bagi Allah, Ahlus Sunnah wal Jama'ah juga menetapkan sifat-sifat Fi'liyah-Nya yang bersifat ikhtiyari, dengan makna yang laik dengan keagungan-Nya


24.    Al-Maji' (Tiba), 25. Al-Ityan (Datang)

"Tiada yang mereka nanti-nantikan melainkan kedatangan Allah dan malaikat (pada hari kiamat) dalam naungan awan, dan diputuskanlah perkaranya." (Al-Baqarah : 210)

"Jangan (berbuat demikian). Apabila bumi digoncangkan berturut-turut. Dan tibalah Rabbmu sedangkan malaikat berbaris-baris." (Al-Fajr : 21-22)

Ayat-ayat yang disebutkan oleh penulis ini, juga ayat-ayat yang lain, memuat penetapan sifat Al-Maji' (tiba') dan Al-Ityan (datang), demikian pula sifat An-Nuzul (turun), sesuai dengan makna yang laik dengan keagungan Allah Ta'ala. Perbuatan perbuatan ikhtiari ini dilakukan berkaitan dengan Al-Masyi'ah (kehendak) dan Al-Qudrah (kemampuan) Allah.


26.    Sifat Al-Wajhu (Wajah), 27. Al-Yadain (Dua Tangan), 28. Al-'Ainain (Dua Mata)

"Dan tetap kekal Wajah Rabbmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan." (Ar-Rahman : 27)

"Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Rabbmu, sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Mata Kami." (Ath-Thur : 48)

"Apakah yang menghalangi kamu sujud kepada (Adam) yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku." (Shad : 75)

Dalam ayat-ayat ini terkandung penetapan wajah, dua tangan, dan dua mata bagi Allah Ta'ala, dengan sifat yang sesuai dengan kebesaran-Nya. Adapun hadits yang menunjukkan sifat dua mata ini, adalah sabda Nabi :

"Sesungguhnya Rabbmu tidak buta sebelah matanya."


29.    Sifat Al-Makru (Makar), 30. Al-Kaid (Tipu daya)

"Mereka (orang-orang kafir itu) membuat makar, dan Allah membalas makar mereka. Dan Allah sebaik-baik pembuat makar."'(Ali Imran : 54)

"Sesungguhnya mereka (orang-orang kafir itu) merencanakan tipu daya yang jahat dengan sebenar-benarnya. Dan Aku pun merencanakan tipu daya pula, dengan sebenar-benarnya." (Ath-Thariq : 15-16)

"Dan Dia-lah Dzat Yang Maha keras tipu daya-Nya." (Ar-Ra'd : 13)

Allah telah menetapkan bagi diri-Nya sifat-sifat yang tersebut dalam ayat-ayat tersebut, yaitu: Makar, Al-Kaid (tipu daya), dan Al-Mumahalah (tipu daya). Ini semua merupakan sifat Fi'liyah yang ada pada Allah, dengan makna yang sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya. Namun, dari sifat-sifat Fi'liyah ini tidak boleh diambil nama, sehingga tidak boleh mengatakan : bahwa salah satu nama-Nya adalah Al-Makir (Maha Makar), atau Al-Kaaid (Yang Maha Menipu Daya), karena nama tersebut tidak disebutkan. Kita berhenti pada apa yang tersebut saja, yaitu bahwa Dia adalah sebaik-baik pembuat makar dan bahwa Dia merencanakan tipu daya terhadap musuhmusuh-Nya yang kafir itu. Jadi Allah mensifati diri-Nya dengan sifat makar dan menipu daya sebagai balasan, sebagaimana dalam firman-Nya :

"Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa." (Asy-Syura : 40)

Sifat tersebut termasuk dalam kategori ini, yaitu menimpakan makar dan tipu muslihat kepada siapa yang layak, sebagai hukuman baginya. Allah telah mengakui untuk diri-Nya perbuatan-perbuatan, akan tetapi Dia tidak menamai diri-Nya dengan isim fa’il dari perbuatan-perbuatan tersebut. Misalnya : Araada -menghendaki-, syaa'a -menghendaki-, ahdatsa -mengadakan-, akan tetapi Allah tidak menyebut diriNya dengan nama Asy-Syaa'i (Yang Menghendaki), Al-Murid (Yang Menghendaki), Al-Muhdits (Yang Mengadakan). Dia juga tidak menyebut diri-Nya dengan nama Ash-Shani' (Yang Membuat), Al-Fa'il (Yang Berbuat), Al-Mutain (Yang Membuat dengan kokoh), dan nama-nama lain yang diambil dari perbuatan-perbuatan yang dinyatakan Allah sebagai perbuatan diri-Nya. Jadi, bab Af’al (perbuatan-perbuatan), lebih luas daripada bab Asma' (nama-nama). Tetapi, apa yang dinyatakan oleh Allah untuk diri-Nya, maka kitapun meyakininya, misalnya firman-Nya :

“Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya.” (Al-Buruj : 16)

“Begitulah perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh segala sesuatu.” (An-Naml : 88)


31.    Sifat Al-'Afwu (Memaafkan), 32. Al-Maghfirah (Mengampuni), 33. Al-'Izzah (Mulia), 34.Al-Qudrah (Kuasa, Mampu)

"Jika kamu menyatakan sesuatu kebaikan, menyembunyikan, atau memaafkan suatu kesalahan (orang lain), maka sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Kuasa." (An-Nisa' : 149)

"Padahal, kemuliaan hanyalah bagi Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman." (Al-Munafiqun : 8)

"Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampuni? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (An-Nur : 22)

Dalam ayat-ayat di atas, Allah menetapkan bagi diri-Nya sifat Al-'afwu (memaafkan), Al-maghfirah (mengampuni), Al-'lzzah (mulia), dan Al-Qudrah (kuasa, mampu), karena itu kita pun meyakininya sebagai sifat Allah, dengan makna yang layak bagi-Nya, tidak ada satupun dari makhluk-makhluk-Nya yang menyerupai sifat-sifat tersebut.


35.    Sifat Al-Istiwa" (Bersemayam), 36. Al-'Uluw (Tinggi)

“Allah Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas 'Arsy.” (Thaha : 5)

Sifat itu disebutkan oleh Allah di tujuh tempat dalam kitab-Nya dan kita meyakini apa yang telah ditegaskan oleh Allah bagi diri-Nya. Kita mengatakan bahwa Dia benar-benar bersemayam, dengan sifat bersemayam yang layak dengan kebesaran-Nya. Bersemayam itu telah diketahui artinya, bagaimananya tidak diketahui, mengimaninya merupakan kewajiban, sedangkan bertanya mengenainya adalah bid'ah, dan inilah madzhab Ahlus Sunnah wal Jama'ah.

"Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang shalih dinaikkan-Nya." (Fathir : 10)

Al-Uluw (Tinggi) merupakan sifat Dzatiy bagi Allah Ta'ala. dia memiliki ketinggian absolut : ketinggian dzat, ketinggian kekuasaan, dan ketinggian pemaksaan  dalam hadits disebutkan :

'"Arsy itu di atas air, sedangkan Allah di atas 'Arsy dan Dia mengetahui apa yang kamu di atasnya."


37.    Sifat Al-Ma'iyah (Kebersamaan) Bagi Allah Ta'ala

"Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar darinya, juga apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." (Al-Hadid : 4)

"Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan." (An-Nahl : 128)

Dalam ayat-ayat ini, kita menemukan bahwa Allah Ta'ala telah menetapkan bagi diri-Nya sifat Al-Ma'iyah (kebersamaan). Ma'iyah ini terbagi menjadi dua macam:

1 .    Kebersamaan Allah dengan seluruh makhluk, yang konsekuensinya berupa sifat Al-Ilmu (mengetahui), Al-Ihathah (meliputi), dan Al-Ithla' (melihat). Dalil kebersamaan ini adalah apa yang terkandung dalam surah Al-Hadid di depan.

2.    Kebersamaan Allah khusus dengan orang-orang yang beriman dan bertakwa, yang konsekwensinya berupa penjagaan, perhatian, dan pertolongan. Kebersamaan yang umum, termasuk salah satu sifat Dzatiyah, sedangkan kebersamaan yang khusus, termasuk salah satu sifat Fi'liyah. Nabi bersabda :

“Sesungguhnya, bila seseorang dari kamu berdiri dalam shalatnya, maka ia sesungguhnya bermunajat kepada Rabbnya. Rabbnya berada di antara dirinya dan kiblat. Karena itu, janganlah salah seorang dari kamu meludah di hadapan wajahnya, tetapi hendaklah ia meludah di sebelah kirinya atau di bawah kedua telapak kakinya." Dalam riwayat lain, "... atau di bawah telapak kaki kirinya.”


"Yang kamu seru dalam doamu lebih dekat kepada salah seorang dari kamu, daripada leher kendaraan tunggangan salah seorang dari kamu."


38.    Sifat AI-Kalam (Berbicara)

"Dan Allah berbicara kepada Musa dengan langsung." (An-Nisa' : 164)

Ayat ini, juga ayat-ayat lain yang disebutkan oleh penulis, menunjukkan bahwa Allah benar-benar berbicara dengan pembicaraan yang sesuai dengan kebesaran-Nya. Dia berbicara bila Dia menghendaki, tentang apa yang Dia kehendaki, dan kapan saja Dia menghendaki. Dia, benar-benar telah berbicara dengan Al-Qur'an dan kitab-kitab lain yang diturunkan kepada para nabi 'alaihimush shalatu wassalam. Al-Qur'an adalah kalam-Nya, diturunkan, bukan makhluk, bermula dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya. Bila manusia menulis Al-Qur'an di mushaf atau membacanya, maka hal itu tidak merubah keberadaannya sebagai Kalam Allah. Karena perkataan itu disandarkan kepada siapa yang mengatakannya pertama kali, bukan kepada siapa yang menyampaikannya. Allah telah berbicara dengan huruf-hurufnya dan makna-maknanya, dengan lafazh dari diri-Nya sendiri, tidak sedikit pun dari hal itu yang berasal dari selain-Nya. Jadi, Allah berbicara dengan perkataan yang dari segi jenisnya adalah Qodim, akan tetapi dari segi satu persatunya adalah Hadits (baru), dan Dia terus-menerus berbicara dengan huruf, suara, dan perkataan yang didengar oleh siapa saja di antara makhluk-Nya yang Dia kehendaki. Dia akan berbicara kepada orang-orang mukmin pada Hari Kiamat dan sebaliknya mereka berbicara kepada-Nya. Pembicaraan-Nya terjadi dengan dzat-Nya dan merupakan sifat Dzat sekaligus sifat perbuatan, karena itu ia masih dan akan terus berbicara apabila Ia menghendaki, dengan pembicaraan yang sesuai dengan kebesaranNya  Nabi telah bersabda :

"Tidak ada seorang pun di antara kamu, kecuali Rabbnya akan berbicara dengannya, tanpa perantara seorang penerjemah. "

Beliau juga bersabda : Allah 'Azza wa Jalla berfirman :

"Wahai Adam !" Adam alaihissalam menjawab "Kupenuhi panggilan-Mu, saya sangat berbahagia menjumpai-Mu, dan segala kebaikan berada di kedua tanganMu." Nabi bersabda : Lalu Allah berfirman, "Keluarkanlah utusan naar!" Adam bertanya "Apakah utusan naar itu ?" Allah menjawab "Untuk setiap seribu orang, ada 999 orang." Nabi bersabda "Itulah hari dimana anak kecil beruban, setiap wanita yang hamil melahirkan kandungannya, dan kamu melihat manusia mabuk padahal mereka tidak mabuk, akan tetapi siksa Allah itu sangat keras.'"


39.    Orang-orang Mukmin Melihat Allah Pada Hari Kiamat

"Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabbnyalah mereka melihat."'(Al-Qiyamah : 22-23).

Pada bab ini penulis Rahimahullah Ta'ala menyebutkan ayat-ayat yang menunjukkan bahwa orang-orang mukmin melihat Rabb mereka pada hari kiamat, secara langsung dengan mata kepala mereka, dengan cara yang layak dengan kebesaran-Nya, yang mana hal itu tidak mirip dengan satu pun di antara para makhluk-Nya. Hal itu juga telah disebutkan di dalam As Sunnah. Nabi bersabda :

"Bila penduduk jannah telah masuk jannah, Allah Tabaraka wa Ta'ala berfirman, ‘Inginkah kalian jika aku menambalikan sesuatu untuk kalian?’ Mereka berkata, ‘Tidakkah Engkau telah menjadikan wajah kami menjadi putih, Engkau masukkan kami ke jannah, dan Engkau selamatkan kami dari naar?’ Maka, Allah menyingkapkan hijab. Tidak ada sesuatupun yang diberikan kepada mereka, yang lebih mereka sukai daripada kenikmatan melihat kepada Rabb mereka 'Azza wa Jalla."

Kemudian, Nabi membaca ayat ini :

"Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (Jannah) dan tambahannya"

Pendapat bahwa orang-orang mukmin melihat Rabb mereka pada Hari Kiamat ini, disepakati oleh para nabi, rasul, seluruh shahabat, tabi'in, dan imam kaum muslimin dalam berbagai masa. Yang menentang pendapat ini hanyalah orang-orang Jahmiyah dan Mu'tazilah serta orang-orang yang mengikuti mereka. Pendapat mereka itu bathil dan tertolak dengan Al-Kitab dan As-Sunnah  Nabi bersabda:

"Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan ini. Kalian tidak berjubel dalam melihat-Nya. Maka, apabila kalian bisa dengan sepenuh daya menjaga shalat sebelum matahari terbit (shalat fajar) dan shalat sebelum matahari tenggelam (shalat 'ashar) maka lakukanlah."


40.    Allah Turun Ke Langit Dunia Setiap Malam

Nabi bersabda :

“Rabb  Tabaraka wa Ta'ala turun pada setiap malam ke langit dunia, ketika masih tersisa sepertiga malam terakhir. Dia berfirman : 'Siapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku mengabulkannya, siapa yang memohon kepada-Ku, niscaya Aku memberinya, siapa yang meminta ampun kepada-Ku niscaya Aku mengampuninya?”

Hadits yang disepakati keshahihannya ini, merupakan dalil yang sahih dan gamblang, yang menyatakan turunnya Allah Ta'ala ke langit dunia pada setiap malam, ketika masih tersisa sepertiga malam terakhir. Turunnya Allah Ta'ala ini sesuai dengan kebesaran dan keagunganNya. Turun merupakan salah satu sifat Fi'liyah. Dia turun ketika Dia menghendaki dan kapan saja Dia menghendaki. Arti turun telah diketahui, tetapi bagaimana keadaan turun-Nya itu tidak diketahui, mengimaninya merupakan kewajiban, sedangkan bertanya mengenainya adalah bid'ah. Demikian pula turunnya Allah pada Hari Kiamat, sebagaimana disebutkan dalam Al-Kitab dan As-Sunnah. Turun-Nya tidak sama dengan turunnya tubuh manusia dari atap rumah ke tanah, yang mana atap tetap berada di atasnya, tetapi Allah Maha Suci dari hal yang demikian itu .'


41.    Sifat AI-Farh (Gembira)

Nabi bersabda :

"Allah lebih gembira dengan taubat seorang hambanya, dibanding dengan kegembiraan salah seorang dari kalian yang menemukan untanya, yang telah hilang di padang pasir yang luas ."

Ini merupakan salah satu sifat Fi'liyah dengan keadaan yang sesuai dengan kebesaran Allah 'Azza wa Jalla.


42.    Sifat Adh-Dhahik (Tertawa)

Nabi Bersabda :

"Allah tertawa terhadap dua orang, salah satu membunuh yang lain, tetapi keduanya masuk jannah." (Para shahabat) bertanya, "Bagaimana bisa demikian wahai Rasulullah 1" Beliau bersabda, :Yang seorang berperang dijalan Allah 'Azza wa Jalla, lalu gugur sebagai syahid. Kemudian Allah menerima taubat si pembunuh, ia masuk Islam, lalu berperang dijalan Allah 'Azza wa Jalla, kemudian gugur sebagai syahid .

Dalam hadits ini terdapat dalil yang sahih dan tegas, yang menyatakan sifat tertawa bagi Allah, yang layak dengan kebesaranNya. Ini merupakan salah satu sifat Fi'liyah yang dilakukan oleh Allah apabila Dia menghendaki dan kapan saja Dia menghendaki .'


43. Sifat Al-'Ajab (Ta'ajub)

Nabi bersabda :

‘Allah sungguh ta'ajub atau tertawa oleh si Fulan dan Fulanah. Maka Allah 'Azza wa Jalla menurunkan : 'Dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan .’

Dalam hadits sahih ini dinyatakan sifat ta'ajub, yang merupakan salah satu sifat Fi'liyah. Jadi, Allah Ta'ala ta'ajub apabila Dia menghendaki dan kapan saja Dia menghendaki, dengan keadaan yang layak dengan kebesaran-Nya.

"Tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya dan Dia Maha Mendengar lagi Melihat."


44. Sifat Qodamur Rahman (Telapak Kaki Allah)

"Setiap kali jahanam dilempari (dengan penghuninya), ia senantiasa mengatakan, 'Masih adakah tambahan?' Sehingga Rabbul Tzzah (Allah H) meletakkan telapak kaki-Nya di dalamnya -dalam riwayat lain, meletakkan telapak kaki-Nya di atasnya-. Maka, sebagiannya mengisut kepada sebagian lainnya, lalu ia berkata, Cukup... cukup... !"

Dalam hadits ini dinyatakan adanya kaki bagi Allah Yang Maha Rahman, dengan keadaan yang layak dengan kebesaran-Nya, sebagaimana telah dijelaskan terdahulu .


SIFAT FI’LIYAH DAN SIFAT DZATIYAH BAGl ALLAH

Sifat-sifat Allah dibagi menjadi dua :

Yang Pertama Sifat Dzatiyah : yaitu sifat yang tidak terpisahkan dari Allah Ta'ala. Maka, Ia sejak dahulu dan tetap menyandang sifat tersebut. Misalnya: Ilmu, Hidup, Kuasa, Mendengar, Melihat, Wajah, Telapak, Tangan, Mata, Kaki, Raja, Agung, Besar, Perkasa, Tinggi, Jari, Telapak Kaki, Kaya, Kasih Sayang, dan Berbicara.

Yang Kedua Sifat Fi'liyah : yaitu sifat yang berkaitan dengan kehendak dan kekuasaan Allah. Misalnya: Bersemayan, Turun, Tiba, Tertawa, Ridha, Ta'ajub, Murka, Datang, Menghidupkan, Mematikan, Gembira, Marah, Benci, Cinta. Semua sifat ini disebut Qadim (ada sejak dahulu) dari segi jenisnya dan baru dari segi terjadinya satu persatu. Sifat-sifat tersebut, juga sifat-sifat Fi'liyah yang lain, berkaitan dengan kehendak Allah. Bila Dia berkehendak, Dia melakukannya sedangkan bila Dia tidak berkehendak, Dia tidak melakukannya .'

SIFAT FI'LIYAH SEKALIGUS DZATIYAH

Kadang-kadang suatu sifat bisa dikategorikan dalam sifat Fi'liyah sekaligus Dzatiyah. Misalnya sifat berbicara (kalam), asalnya merupakan sifat Dzatiyah, karena Dia sejak dahulu dan tetap berbicara. Tetapi bila dilihat dari terjadinya satu persatu, berbicara merupakan sifat Fi'liyah, karena berbicara itu berkaitan dengan kehendak-Nya. Dia berbicara kalau menghendaki. Sebagaimana firman Allah Ta'ala :

"Sesungguhnya perintah-Nya, apabila Dia menghendaki sesuatu, hanyalah mengatakan, 'Jadilah!', maka terjadilah ia."

Setiap sifat yang berkaitan dengan kehendak Allah Ta'ala, adalah mengikuti kebijaksanaan-Nya. Kadang-kadang hikmah tersebut kita mengerti, tetapi kadang-kadang kita tidak mampu mengetahuinya. Akan tetapi kita yakin dengan seyakin-yakinnya bahwa Allah tidak menghendaki sesuatu apapun, kecuali hal itu sesuai dengan hikmah. Hal ini diisyaratkan dalam firman Allah :

"Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana ." (Al-Insaan : 30).



SIKAP PERTENGAHAN AHLUS SUNNAH WAL JAMA'AH


SIKAP PERTENGAHAN AHLUS SUNNAH DIANTARA FIRQAH SESAT DALAM MASALAH SIFAT ALLAH

Umat Islam adalah umat yang wasath, berada di tengah-tengah dibandingkan dengan berbagai agama lain. Sebagaimana firman Allah :

"Demikianlah, Kami telah menjadikan kamu sekalian sebagai umat yang wasath." (Al-Baqarah : 143).

Ahlus Sunnah wal Jama'ah adalah kelompok pertengahan dibandingkan dengan kelompok-kelompok yang menisbahkan dirinya kepada Islam. Mereka adalah orang-orang yang pertengahan antara orang-orang Jahmiyah yang menafikan sifat-sifat dan nama nama Allah, yang melucuti Allah dari sifat-sifat-Nya, yang karena itu mereka disebut sebagai Ahli Ta'thil dengan Ahli Tamtsil, yaitu kelompok yang berseberangan dengan Jahmiyah, yang meyakini sifat-sifat Allah, akan tetapi mereka menjadikan sifat-sifat tersebut sebagaimana sifat-sifat makhluk, maka mereka mengatakan : Tangan Allah sebagaimana tangan makhluk dan pendengaran Allah sebagaimana pendengaran makhluk. Maha Suci Allah dari perkataan orang-orang zhalim itu. Adapun Ahlu Sunnah wal Jama'ah, menetapkan sifat-sifat Allah tanpa menyerupakannya. Mereka me-Mahasucikan Allah dari keserupaan dengan para makhluk, tanpa meniadakannya. Mereka memadukan antara Tanzih (pemahasucian), dan Itsbat (penetapan).

Allah telah membantah kedua kelompok yang menyimpang di atas dengan firman-Nya :

"Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat."

Firman-Nya :

"Tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya"

Adalah bantahan terhadap kaum musyabbihah (yang menyerupakan sifat Allah dengan sifat makhluk-Nya), sedangkan firman Allah :

"Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat"

Adalah bantahan terhadap kaum Mu'athilah (yang menafikan sifat-sifat Allah)


SIKAP PERTENGAHAN AHLUS SUNNAH ANTARA JABRIYAH DAN QADARIYAH DALAM MASALAH PERBUATAN HAMBA

Ahlus Sunnah memiliki sikap yang pertengahan antara penganut paham Jabriyah dan Qadariyah, serta yang lainnya. Kaum Jabariyah, yang juga merupakan penganut paham Jahmiyah dan pengikut Jahm bin Shafwan, mengatakan: Sesungguhnya, para hamba itu dipaksa atas perbuatan dan gerakan-gerakannya, serta dalam seluruh perilakunya, sebagaimana halnya gerakan-gerakan orang yang gemetar dan urat-urat yang berdenyut, kesemuanya merupakan perbuatan Allah.

Adapun kaum Qadariyah, yaitu orang-orang Mu'tazilah pengikut Ma'bad Al-Juhaniy beserta orang-orang yang sepaham dengan mereka, mengatakan: Sesungguhnya, hambalah yang menciptakan perbuatan-perbuatannya, tanpa campur tangan kehendak dan kekuasaan Allah. Jadi, mereka mengingkari bahwa Allah adalah pencipta perbuatan perbuatan para hamba. Mereka mengatakan : Allah tidak menghendakinya dan tidak menginginkannya.

Allah telah memberikan petunjuk kepada Ahlus Sunnah wal Jama'ah untuk menjadi kaum yang pertengahan di antara kedua kelompok ini. Mereka mengatakan : Sesungguhnya Allah Ta'ala adalah yang menciptakan para hamba berikut perbuatanperbuatan mereka, akan tetapi para hamba tersebut benar-benar melakukannya dan memiliki kemampuan untuk melakukannya, sedangkan Allah adalah yang menciptakan mereka dan segala kemampuan mereka. Allah Ta'ala berfirman :

"Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu buat." (Ash-Shafat : 96).

Ahlus Sunnah juga meyakini bahwa seorang hamba memiliki kehendak dan ikhtiar yang mengikuti kehendak Allah Ta'ala. Allah Ta'ala berfirman:

"Bagi siapa diantara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki oleh Allah, Rabb semesta alam." (At-Takwir : 28-29).


SIKAP PERTENGAHAN AHLUS SUNNAH ANTARA KAUM MURJIA'H DAN KAUM WA'IDIYAH DARI GOLONGAN OADARIYAH DALAM MASALAH ANCAMAN ALLAH


Murji 'ah : Berasal dari kata irja', yang artinya menangguhkan. Mereka dinamakan demikian dikarenakan mereka menunda amal dari iman. Mereka mengatakan. Suatu dosa tidak memberikan mudharat dengan adanya iman, sebagaimana suatu ketaatan tidak berguna dengan adanya kekafiran. Jadi, menurut mereka, amal tidaklah termasuk dalam sebutan iman, iman itu tidak bertambah dan tidak berkurang, dan seorang pelaku dosa besar itu memiliki keimanan yang sempurna dan tidak terkena ancaman siksa. Pendapat mereka ini batil berdasarkan Al-Kitab dan. As-Sunnah.

Adapun Wa'idiyah adalah golongan yang mengatakan: Berdasarkan rasio, Allah haruslah menyiksa orang yang bermaksiat sebagaimana harus memberi pahala orang yang berbuat ketaatan. Maka, barang siapa yang meninggal dalam keadaan berbuat dosa besar dan belum bertaubat, maka ia kekal di naar selama-lamanya. Ini merupakan salah satu prinsip kaum Mu'tazilah yang juga diyakini oleh kaum Khawarij. Mereka berkata : Karena Allah tidak menyelisihi janji. Pendapat mereka ini batil dan bertentangan dengan Al-Kitab dan As-Sunnah. Allah Ta'ala berfirman :

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya." (An-Nisa' : 48).

Adapun Ahlus sunnah wal Jama'ah, memiliki sikap yang pertengahan dalam masalah ancaman Allah ini, antara kedua kelompok ini. Mereka mangatakan; Sesungguhnya seorang pelaku dosa besar itu beriman dengan keimanannya tetapi juga fasik karena perbuatan dosa besarnya, atau seorang mukmin yang kurang sempurna imannya. Apabila ia mati sebelum bertaubat, maka ia berada di bawah kehendak Allah. Bila Dia menghendaki, Dia mengampuninya dengan kasih sayang dan karunia-Nya serta memasukkannya ke jannah sejak awal. Dan bila Dia menghendaki, Dia akan menyiksanya dengan keadilan-Nya, sesuai dengan kadar dosa dosa-Nya, di dalam naar, akan tetapi ia tidak kekal di dalamnya, melainkan akan keluar setelah disucikan dan dibersihkan dari dosa-dosa dan kemaksiatan, dan akhirnya ia akan masuk ke jannah berkat syafaat atau karunia dan rahmat Allah, dan kesemua itu merupakan karunia dari Allah Ta'ala. Ahlus Sunnah mengatakan : Menyelisihi ancaman merupakan kemurahan, berbeda dengan menyelisihi janji kebaikan. Menyelisihi ancaman merupakan perbuatan terpuji, tidak sebagaimana menyelisihi janji kebaikan. Seorang penyair berkata : Sungguh, bila aku mengancamnya atau menjanjikan kebaikan untuknya Kuselisihi ancamanku, dan kupenuhi janji baikku .'


SIKAP WASATH PERTENGAHAN AHLUS SUNNAH DALAM MASALAH ASMA'UL IMAN WADDIEN (NAMA-NAMA IMAN DAN DIN), ANTARA KAUM HARURIYAH DAN MUTAZILAH DENGAN KAUM MURJI'AH DAN JAHMIYAH

Yang dimaksud Asma' (nama-nama) di sini adalah Asma' ud Dien (sebutan-sebutan dalam agama), seperti : Mukmin, muslim, kafir, dan fasik. Adapun yang dimaksud dengan hukum-hukum adalah hukum-hukum bagi orang-orang yang menyandang sebutan tersebut, baik di dunia maupun akhirat.

1.    Haruriyah adalah sekelompok dari golongan Khawarij, yang dikaitkan dengan nama Harura', yaitu nama suatu tempat dekat Kufah. Mereka berkumpul di tempat ini ketika membelot dan memberontak terhadap Ali. Mereka berpendapat bahwa seseorang itu tidak disebut mukmin kecuali apabila ia telah melaksanakan kewajiban-kewajiban dan menjauhi dosa-dosa besar. Mereka mengatakan : Din dan Iman adalah perkataan, perbuatan, dan keyakinan. Akan tetapi ia tidak bertambah dan tidak berkurang. Maka barangsiapa melakukan dosa besar, ia kafir di dunia, sedangkan di akhirat kekal di naar selama-lamanya, bila ia belum bertaubat sebelum mati.

2.    Mu'tazilah adalah para pengikut Washil bin 'Atho' dan Amru bin 'Ubaid. Mereka disebut Mu'tazilah, karena mereka I'tizal (menyendiri), memisahkan diri dari majlis Hasan Al-Bashri, dan ada pula yang menyebutkan sebab lain. Menurut mereka, seseorang tidak disebut mukmin kecuali apabila ia telah melaksanakan kewajiban-kewajiban dan menjauhi dosa-dosa besar. Mereka mengatakan : Din dan Iman itu perkataan, perbuatan, dan keyakinan, akan tetapi tidak bertambah dan tidak berkurang. Maka, barangsiapa yang melaksanakan dosa besar, ia berada di suatu tempat antara dua tempat -ia telah keluar dari iman akan tetapi belum masuk ke dalam kekafiran-. Inilah hukumnya di dunia menurut mereka, adapun hukumnya di akhirat, ia kekal dalam naar selama-lamanya. Jadi, ada dua tempat perbedaan antara Khawarij dan Mu'tazilah dan dua tempat pula yang mereka sepakati. Terjadi persamaan di antara mereka pada :

a.    Menolak keimanan bagi orang yang melaksanakan dosa besar.
b.    Kekekalan orang tersebut di naar bersama orang-orang kafir.

Adapun perbedaan yang terjadi di antara mereka adalah :

a.    Orang-orang Khawarij menyebutnya sebagai orang kafir, sedangkan orang-orang Mu'tazilah mengatakan bahwa orang tersebut berada di suatu tempat di antara dua tempat.
b.    Khawarij menghalalkan darah dan hartanya, sedangkan Mu'tazilah tidak melakukan hal itu.

3.    Murji'ah mengatakan: Suatu dosa tidak mendatangkan mudharat terhadap keimanan sebagaimana suatu ketaatan tidak berguna dengan adanya kekafiran. Mereka mengatakan bahwa iman hanyalah pembenaran di dalam hati. Seorang yang melakukan dosa besar menurut mereka memiliki keimanan yang sempurna dan tidak berhak dimasukkan ke naar. Dengan demikian, keimanan orang yang paling fasik sama dengan keimanan orang yang paling sempurna imannya.

4.    Demikian halnya pendapat orang-orang Jahmiyah. Jadi, orang Jahmiyah telah melakukan bid'ah at-ta'thil, al-jabar, dan al-irja', sebagaimana dikatakan oleh Ibnul Qayyim Rahimahullah. Orang yang melaksanakan dosa besar menurut mereka memiliki keimanan yang sempurna dan tidak berhak dimasukkan ke dalam naar.

5.    Adapun Ahlus Sunnah wal Jama'ah, telah mendapatkan petunjuk dari Allah untuk memahami kebenaran. Mereka mengatakan: Sesungguhnya, iman adalah ucapan dengan lisan, perbuatan dengan anggota badan, dan keyakinan dengan hati. Iman bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Seorang pelaku dosa besar menurut mereka adalah seorang mukmin yang kurang keimanannya. Berkurangnya iman dia itu sebanding dengan kadar maksiat yang dilakukannya.

Maka, mereka sama sekali tidak menafikan keimanan dari pelaku dosa besar tersebut seperti pemahaman kaum Khawarij dan kaum Mu'tazilah. Mereka juga tidak mengatakan bahwa pelaku dosa besar itu seorang yang memiliki iman sempurna seperti pemahaman kaum Murji'ah dan kaum Jahmiyah. Adapun hukum orang tersebut di akhirat, di bawah kehendak Allah. Jika Dia berkehendak, Dia akan memasukkannya ke jannah sejak pertama kali sebagai kasih sayang dan karunia dari Allah, dan jika Dia menghendaki, Dia akan menyiksanya sesuai dengan kadar kemaksiatannya. Ini apabila ia tidak melakukan salah satu dari pembatal-pembatal keislaman, tidak menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah, dan tidak mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah. Hukum yang diyakini oleh Ahlus Sunnah bahwa seorang mukmin tidak kekal di naar, juga merupakan hukum yang pertengahan antara yang diyakini oleh kaum Khawarij dan kaum Mu'tazilah yang mengatakan bahwa manusia kekal di naar, begitu juga dengan Murji'ah dan Jahmiyah yang mengatakan bahwa manusia tidak berhak untuk mendapatkan hukuman sekalipun melakukan kemaksiatan .


SIKAP PERTENGAHAN AHLUS SUNNAH DALAM MASALAH SHAHABAT RASULULLAH ANTARA RAFIDHAH DENGAN KHAWARIJ DAN NAWASHIB

Rafidhah adalah segolongan dari Syi'ah yang mengkultuskan Ali Radhiallahu 'anhu dan Ahlul Bait secara berlebihan, bersikap memusuhi dan mengkafirkan mayoritas sahabat, termasuk tiga sahabat utama (Abu Bakar, Umar dan Utsman, serta orang-orang yang mengikuti mereka, kaum Rafidhah juga mengkafirkan siapa saja yang memerangi Ali. Mereka berkata : Ali adalah seorang Imam yang ma'shum. Sebab mereka disebut Rafidhah adalah, karena mereka meninggalkan Zaid bin Ali bin Husain, ketika mereka bertanya, "Apakah engkau berlepas diri dari Syaikhain, yaitu : Abu Bakar dan Umar ?", maka Zaid menjawab, "Ma'adzallah (aku berlindung kepada Allah), keduanya adalah wazir (pembantu) kakekku." Maka mereka menolak Zaid, sehingga dinamakan dengan Rafidhah '. Adapun golongan Zaidiyah mengatakan : Kami berwala' kepada keduanya dan berlepas diri dari siapa saja yang berlepas diri dari keduanya. Mereka mengikuti pendapat Zaid, sehingga mereka disebut sebagai Zaidiyah.

Sedangkan Khawarij adalah kebalikan dari Rafidhah. Mereka mengkafirkan Ali, Mu'awiyah, dan sahabat-sahabat yang bersama keduanya, sekaligus memerangi mereka serta menghalalkan darah dan harta mereka. Sedangkan Nawashib adalah golongan yang menampakkan permusuhan dan mencela Ahlul Bait.

Adapun Ahlus Sunnah wal Jama'ah, telah mendapatkan petunjuk kebenaran dari Allah. Mereka tidak mengkultuskan Ali dan Ahlul Bait, tidak menampakkan permusuhan terhadap para sahabat Radhiyallahu 'anhum, tidak mengkafirkan mereka, serta tidak berbuat sebagaimana golongan Nawashib yang memusuhi Ahlul Bait. Sebaliknya, mereka mengakui hak dan keutamaan semuanya, berwala' kepada mereka, meyakini peringkat keutamaan mereka sebagai berikut : Abu Bakar, Umar, Utsman, kemudian Ali, menahan diri dari pembicaraan yang bertele-tele mengenai mereka, dan mendoakan seluruh shahabat agar mendapatkan limpahan rahmat Allah. Jadi, mereka bersikap pertengahan antara pengkultusan yang dilakukan oleh orang-orang Rafidhah dan kebencian orang-orang Khawarij .



HARI AKHIR


Iman kepada Hari Akhir merupakan salah satu dari enam rukun iman. Iman kepada Hari Akhir ini telah dibahas secara global, dan sekarang penulis Aqidah Wasithiyah Rahimahullah hendak menyebutkan sebagian dari detail-detail hari yang agung itu. Ringkasan dari apa yang disebutkan oleh penulis Rahimahullah adalah sebagai berikut:

1.    Iman Kepada Fitnah Kubur.

Wajib beriman bahwa manusia akan diuji di dalam kubur mereka, setelah mati. Ujian ini disebut dengan fitnah kubur. Telah ditegaskan oleh Nabi bahwa manusia akan diuji di dalam kubur mereka. Mereka akan ditanya :

"Siapakah Rabbmu? Apa agamamu? Siapakah nabimu?" Adapun orang mukmin akan menjawab, "Rabbku Allah, agamaku Islam, dan nabiku Muhammad" Sedangkan orang fajir akan menjawab, "Ah, ah, aku tidak tahu. Aku pernah mendengar orang-orang mengatakan sesuatu maka aku ikut mengatakannya." Lalu dikatakan kepadanya, "Engkau tidak tahu dan tidak mengikuti orang yang tahu!" la dipukul dengan palu besi sehingga menjerit dengan jeritan yang terdengar oleh segala sesuatu, kecuali manusia . Seandainya manusia mendengarnya niscaya tersungkur pingsan .

Allah Ta'ala berfirman

"Allah meneguhkan (iman) orang-orang mukmin dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat, dan Allah menyesatkan orang-orang zhalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki." (Ibrahim : 27)

2.    Nikmat Dan Adzab Kubur

Hal ini tersebut di dalam Al-Kitab dan As-Sunnah dan ia merupakan kebenaran yang harus diimani. Karena, setelah usai fitnah kubur —kita berlindung kepada Allah dari fitnah dan adzab adzab kubur— ada dua kemungkinan : Memperoleh adzab atau nikmat. Barangsiapa yang mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan ujian dalam kubur, maka ia selamat dan berbahagia di kuburnya dan pada Hari Mahsyar. Sebaliknya, barangsiapa yang tidak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, maka ia benar-benar merugi dengan kerugian yang nyata. Kita memohon kesentausaan kepada Allah, baik di dunia maupun di akhirat. Adzab tersebut berlaku bagi ruh, sedangkan jasad mengikutinya. Adapun pada Hari Kiamat, adzab tersebut berlaku untuk ruh dan jasad sekaligus. Ringkasnya, adzab dan nikmat kubur adalah benar, berdasarkan petunjuk Kitabullah dan Sunnah rasul-Nya, serta ijma' umat Islam.

3.    Kiamat Kubra

Wajib beriman bahwa setelah berakhirnya masa kehidupan di dunia, akan terjadi Kiamat Kubra, yaitu ketika Israfil meniup sangkakala pertama kali. Setelah itu, Israfil akan meniupnya lagi yang merupakan tiupan hari kebangkitan, maka seluruh ruh kembali kepada jasad masing-masing sehingga manusia bangkit dari kubur mereka untuk berjumpa dengan Rabbul 'Alamin, dalam keadaan tanpa alas kaki dan tanpa busana, dan tidak terkhitan. Yang pertama kali muncul dari kuburnya adalah Nabi Muhammad. Pada hari ini, matahari berada dekat sekali dengan para hamba. Mereka tenggelam dalam keringat sesuai dengan kadar amal perbuatan mereka.

4.    Al-Mizan (Timbangan)

Pada Hari Kiamat, banyak timbangan yang dipasang untuk menimbang amal para hamba.

‘Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya ia akan melihatnya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya ia akan melihatnya pula.’ (Az-Zalzalah : 7-8).

"Barangsiapa yang berat timbangan kebaikannya, maka mereka itulah orang-orang yang mendapat keberuntungan. Dan barangsiapa yang ringan timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam naar jahanam." (Al-Mukminum : 102-103).

Timbangan ini benar-benar ada secara hakiki, mempunyai neraca dan dua daun timbangan.

5.    Buku-buku Dan Lembaran-lembaran Catatan Amal Yang Dibagi-bagikan

Pada Hari Kiamat ini buku-buku catatan amal dibagikan dan dibuka. Ada yang mengambil bukubuku dan lembaran-lembaran amalnya itu dengan tangan kanannya, maka orang ini berhak mendapatkan kebahagiaan abadi. Ia tidak merasakan kesengsaraan lagi sesudahnya. Allah Ta'ala berfirman :

"Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kanannya, maka ia berkata, 'Ambilah, bacalah kitabku ini! Sesungguhnya aku yakin bahwa sesungguhnya aku akan menemui hisab terhadap diriku.' Maka, ia berada dalam kehidupan yang diridhai. Dalam jannah-jannah yang tinggi. Buah-buahannya dekat." (Al-Haaqqah : 19-23)

Kita memohon kepada Allah karunia-Nya, agar Dia menjadikan kita salah seorang dari mereka yang mengambil buku catatan amalnya dengan tangan kanannya ini. Ada lagi orang yang mengambil kitab catatannya dari belakang punggungnya dengan tangan kirinya, maka orang ini berhak memperoleh kesengsaraan. Kita memohon kepada Allah kesentausaan di dunia dan di akhirat. Allah Ta'ala berfirman:

‘Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata : 'Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini). Dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku. Wahai, kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu. Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. Telah hilang dariku kekuasaanku. '(Allah berfirman), 'Tangkaplah ia lalu belenggulah tangannya ke lehernya. Kemudian masukanlah ia ke dalam api naar yang menyalanyala'.’(Al-Haqqah : 25-31).

Kita berlindung kepada Allah dari kemurkaan dan siksa-Nya.

6.    Al-Hisab (Perhitungan)

Wajib beriman kepadanya, karena Allah dan Rasul-Nya telah mengabarkannya. Sesungguhnya Allah akan memperlihatkan amal-amal para hamba-Nya kepada amal mereka sebelum meninggalkan Mahsyar, sehingga setiap orang bisa melihat amalnya, yang baik maupun yang buruk. Allah Ta'ala berfirman :

"Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati kebajikan di hadapkan (ke hadapannya), begitu juga kejahatan yang telah dikerjakannya, ia ingin kalau kiranya antara ia dengan amal-amalnya ada masa yang jauh" (Ali Imran: 30).

"Dan mereka mendapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis), Dan Rabbmu tidak menganiaya seorang juapun." (Al-Kahfi : 49).

Pada hari yang agung ini, manusia ditanya mengenai empat hal :

"Tentang umurnya, dalam hal apa dihabiskan, masa mudanya, dalam hal apa digunakan, hartanya, dari mana ia mencari dan untuk apakah ia menafkahkannya, serta ilmunya, dalam hal apa diamalkannya. "

Nabi juga bersabda :

"Tidak satu orang pun di antara kalian kecuali Allah akan berbicara kepadanya, tanpa perantara seorang penerjemah, la melihat ke sebelah kanannya, maka ia tidak melihat selain apa yang telah diperbuatnya, lalu melihat ke sebelah kirinya, maka tidak melihat kecuali apa yang telah diperbuatnya, la juga melihat ke arah depannya, maka ia tidak melihat selain naar yang berada tepat di hadapannya. Maka, lindungilah diri kalian dari naar, walaupun hanya dengan secuil kurma ."

Allah Ta'ala berfirman :

"Maka, demi Rabbmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua, tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu." (Al-Hijr : 92-93).

Orang-orang kafir tidak dihisab sebagaimana hisab terhadap orang-orang yang amal kebaikan mereka ditimbang. Hanyalah diperlihatkan amal-amal mereka lalu mereka mengakuinya, karena mereka sama sekali tidak mempunyai kebaikan. Kita memohon kepada Aliah kesentausaan di dunia dan di akhirat. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan izin Allah.

7.    Al-Haudh (Telaga)

Salah satu madzhab yang diyakini oleh Ahlus Sunnah adalah, mempercayai sepenuhnya bahwa telaga Nabi terdapat di tengah-tengah padang pada Hari Kiamat.

"Dan bahwa airnya lebih putih daripada air susu, lebih manis daripada madu, bejana-bejananya sejumlah bintang-bintang di langit, lebar dan panjangnya satu bulan, dan barang siapa minum darinya, niscaya tidak akan haus selamanya."

Telaga tersebut khusus untuk Nabi Muhammad. Masing-masing nabi juga memiliki telaga, akan tetapi telaga yang paling besar adalah milik Nabi Muhammad. Telaga ini ada di bumi, yang kepadanya mengalir dua saluran air dari jannah yang berasal dari Al-Kautsar, sedangkan mimbar Rasulullah berada diatas telaganya.

8.    Shirath Dan Setelah Itu Jembatan Antara Jannah dan Naar.

Wajib beriman kepadanya dan beriman bahwa ia benar-benai ada. Ia adalah jembatan yang dipasang di atas permukaan jahanam, diantara jannah dan naar. Semua orang yang dahulu maupun yang belakangan akan melaluinya. Shirath ini lebih tajam daripada pedang dan lebih tipis daripada sehelai rambut. Kita memohon keteguhan kepada Allah. Manusia melewatinya dengan keadaan yang berbeda-beda sesuai dengan amal mereka. Di antara mereka ada yang berhasil melaluinya dalam tempo sekejap mata, ada yang melaluinya seperti kilat, ada yang melewatinya seperti angin, ada yang melaluinya secepat kuda, ada yang seperti unta, ada yang berlari, ada yang berjalan, ada yang merangkak, dan ada yang jatuh ke dalam Jahannam. Di tepi jembatan itu terdapat banyak kait yang diperintah menangkap orang-orang yang diperintahkan untuk ditangkap. Bila orang-orang mukmin berhasil melewatinya, mereka berhenti di atas sebuah jembatan antara jannah dan naar, yang mana sebagian mereka diberi kesempatan untuk melakukan pembalasan terhadap sebagian yang lain. Apabila mereka telah dibersihkan secara keseluruhan, mereka diizinkan untuk memasuki jannah .'

9.    Syafa'at

Yaitu permintaan kebaikan untuk orang lain. Penulis Rahimahullah telah menyebutkan tiga macam syafa'at. Dua macam di antaranya khusus untuk Nabi Muhammad sedangkan yang satu macam lagi adalah syafa'at yang dilakukan oleh beliau dan para nabi yang lain, 'alaihim ash-shalah was salam.

a.    Syafa'at 'Uzhma, yaitu syafa'at beliau untuk Ahlul Mauqif (manusia di Mahsyar) sehingga diputuskan pengadilan di antara mereka, ketika seluruh Nabi 'alaihim ash-shalah was salam tidak bersedia memberikan syafa'at ini.

b.    Syafa'at beliau untuk Ahlul Jannah agar mereka memasukinya . Syafa'at pertama dan kedua ini khusus milik nabi

c.    Syafa'at beliau, para Nabi, Shiddiqin, Syuhada, dan orang-orang Shalih, dll. bagi orang yang wajib masuk naar dari kalangan orang-orang mukmin, agar tidak memasukinya dan bagi orang yang telah memasukinya agar dikeluarkan darinya. Allah juga mengeluarkan banyak manusia dari naar, tanpa syafa'at dari siapapun, tetapi karena karunia dan kasih sayang-Nya. Dan masih terdapat sisa tempat/kekosongan di Jannah dari penduduk dunia yang telah memasukinya, lalu Allah menciptakan kelompok-kelompok manusia dan memasukkan mereka ke jannah. Dalam Syarh Kitab Ath-Thahawiyah disebutkan ada delapan macam syafa'at, yaitu :

●    Syafa'at 'Uzhma untuk memutuskan hukum.
●    Syafa'at untuk beberapa kaum yang memiliki kebaikan dan keburukan yang seimbang.
●    Syafa'at untuk beberapa kaum yang telah diperintahkan masuk naar, agar mereka tidak memasukinya.
●    Syafa'at untuk menaikkan derajat seseorang yang telah masuk jannah.
●    Syafa'at untuk beberapa kaum agar mereka masuk jannah tanpa hisab.
●    Syafa'at beliau untuk meringankan adzab dari orang yang berhak mendapatkannya, seperti syafa'at beliau untuk pamannya, Abu Thalib, agar diperingan dari adzabnya.
●    Syafa'at beliau agar seluruh kaum mukminin diizinkan masuk jannah, dan ini khusus bagi beliau, sebagaimana telah dijelaskan di muka.
●    Syafa'at beliau bagi para pelaku dosa besar di antara umatnya yang telah masuk naar, sehingga mereka dikeluarkan darinya. Syafa'at ini dimiliki pula oleh selain beliau dan beliau lakukan empat kali:
▪    Beliau memberikan syafa'at bagi siapa yang dihatinya terdapat keimanan seberat biji gandum.
▪    Kemudian bagi siapa yang di dalam hatinya terdapat keimanan seberat biji atom atau biji sawi
▪    Kemudian bagi siapa yang di dalam hatinya terdapat keimanan seberat biji sawi yang paling kecil
▪    Kemudian bagi siapa yang telah mengucapkan "Laa Ilaaha Illallah ."

Dan dalam hadits sahih disebutkan : Lalu Ailah Ta'ala berfirman :

"Para malaikat telah memberikan syafa'at. Para Nabi telah memberikan syafa'at. Orang-orang mukmin telah memberikan syafa'at. Tinggallah (yang belum memberikan syafa'at) Dzat yang Maha Pengasih di antara mereka yang memiliki kasih sayang!" Maka Dia menggenggam sekali genggam, mengambil dan mengeluarkan dari naar suatu kaum yang tidak pernah melakukan kebaikan sama sekali ."

Sebagian lagi menyebutkan syafa'at hingga enam macam saja :

1)    Syafa'at 'Uzhma
2)    Syafa'at untuk memasukkan ke jannah.
3)    Syafa'at bagi siapa yang berhak masuk naar agar tidak memasukinya.
4)    Syafa'at bagi siapa yang telah masuk ke naar agar dikeluarkan darinya.
5)    Syafa'at yang mengangkat derajat beberapa kaum yang telah masuk jannah.
6)    Syafa'at untuk meringankan adzab dari Abu Thalib .

Nabi pernah bersabda :

"Syafa'atku untuk Ahlul Kabair (para pelaku dosa besar) dari umatku ."

Syafa'at ini memiliki dua syarat :

1.    Izin Allah SWT bagi yang memberi syafa'at.
2.    Ridha Allah bagi yang mendapatkan syafa'at.

10.    Jannah dan Naar

Madzhab Ahlus Sunnah mengenai jannah dan naar adalah mempercayai dengan seyakin-yakinnya bahwa jannah dan naar adalah dua makhluk yang tidak akan binasa. Jannah adalah tempat tinggal bagi para wali-Nya sedangkan naar adalah tempat tinggal bagi para musuh-Nya. Penduduk jannah tinggal di dalamnya selama-lamanya sedangkan orang-orang kafir yang tinggal di naar, berada didalamnya kekal selama-lamanya. Naar dan jannah telah ada dan Rasulullah pernah melihat keduanya dalam Shalat Kusuf. Dalam hadits-hadits sahih juga disebutkan bahwa maut (kematian) itu didatangkan dalam bentuk seekor domba yang berbulu putih campur hitam. Ia diberhentikan di antara jannah dan naar, dan disembelih. Kemudian dikatakan: "Wahai penduduk jannah, kekal tiada kematian ! Wahai penduduk naar, kekal dan tiada kematian ."


TAKDIR DAN TINGKATAN-TINGKATANNYA

Takdir merupakan salah satu dari enam rukun iman. Di muka telah disebutkan secara global mengenai iman kepada takdir. Kemudian, Syaikh Rahimahullah menyebutkan disini secara terperinci. Takdir adalah ketentuan Allah Ta'ala terhadap segala sesuatu sejak masa dahulu, Ilmu Allah Ta'ala bahwa itu akan terjadi pada waktu-waktu tertentu yang diketahui-Nya dan dengan sifat-sifat tertentu, penulisan hal itu oleh-Nya, kehendak-Nya terhadapnya, kejadiannya sesuai dengan apa yang telah ditetapkan oleh-Nya, dan penciptaannya olehNya '.

Syaikh Rahimahullah telah menyebutkan empat tingkatan takdir, yang harus diimani sebagaimana Ahlus Sunnah mengimaninya.

1.    Tingkatan Pertama

Beriman bahwa Allah Ta'ala mengetahui apa yang dikerjakan oleh seluruh makhluk, dengan ilmu-Nya yang azali dan abadi. Allah telah mengetahui segala keadaan mereka, yang berupa ketaatan, rezki, maupun ajal. Dia mengetahui apa yang telah dan akan terjadi, apa yang tidak terjadi bila ia terjadi, serta bagaimana ia terjadi. Allah Ta'ala berfirman :

"Dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu." (Ath-Thalaq : 12).

"Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (Al-'Ankabut : 62).

2.    Tingkatan Kedua

Penulisan segala sesuatu oleh Allah di dalam Lauh Mahfuzh, baik yang kecil maupun yang besar, baik yang telah terjadi maupun yang akan terjadi. Allah Ta'ala berfirman :

"Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah." (Al-Hadid : 22).

"Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata." (Yasin : 12).

3.    Tingkatan Ketiga

Kehendak Allah yang berlaku, yang tidak bisa ditolak dan kekuasaan-Nya yang tidak bisa dihindarkan oleh suatu apapun. Seluruh peristiwa terjadi dengan kehendak dan kekuasaan Allah. Apapun yang Dia kehendaki, niscaya terjadi dan apapun yang tidak Dia kehendaki, niscaya tidak terjadi. Allah Ta'ala berfirman :

"Dan kamu tidak dapat menghendaki, kecuali apabila dikehendaki oleh Allah, Rabb semesta alam." (At Takwir : 29).

4.    Tingkatan Keempat

Mencipta adalah wewenang Allah Ta'ala. Dialah Khaliq (Pencipta), sedangkan selain-Nya adalah makhluk yang diciptakan-Nya. Allah Ta'ala berfirman :

"Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu." (Az-Zumar : 62) .

"Adakah sesuatu pencipta selain Allah?" (Fathir : 3).

Allah-lah yang menciptakan segala sesuatu yang telah terjadi, bersamaan dengan itu Dia memerintahkan para hamba untuk mentaati-Nya dan mentaati Rasul-Nya serta melarang mereka dari kemaksiatan terhadap-Nya. Dia mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan dan orang-orang yang berbuat adil serta meridhai orang-orang yang beriman dan beramal shalih. Dia tidak mencintai orang-orang kafir dan tidak meridhai kaum yang fasik. Dia tidak memerintahkan perbuatan keji, tidak meridhai kekafiran bagi hamba-hamba-Nya, dan tidak mencintai kerusakan. Dia Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.

Ada sebagian ulama yang memadukan keempat tingkatan takdir ini dalam satu bait sya'ir sebagai berikut:

(Taqdir) adalah Ilmu, penulisan dan kehendak Maula kita
Begitu juga penciptaan-Nya, yaitu pengadaan dan pembentukannya


Iman Kepada Penulisan Takdir, Mencakup Lima Takdir:

1.    Takdir yang meliputi seluruh makhluk. Artinya, Allah telah mengetahui, menulis, menghendaki, dan menciptakannya, sebagaimana dijelaskan sebelumnya berikut dalil-dalilnya, dalam empat tingkatannya.

2.    Takdir kedua adalah penulisan mitsaq (perjanjian), ketika Allah berfirman :

"Dan (ingatlah) ketika Rabbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil persaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman) : 'Bukankah Aku ini Rabbmu?' Mereka menjawab : 'Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan, 'Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini." (Al-A'raf: 172).

3.    At-Takdir Al-'Umri (Penetapan umur) : sekaligus penetapan rezki, ajal, dan amal perbuatan seorang hamba, serta apakah ia bahagia ataukah sengsara, yaitu ketika masih berada di perut ibunya. Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud

4.    At-Takdir As-Sanawy (Penetapan Tahunan). Allah berfirman :

"Pada malam itu, dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah." (Ad-Dukhan : 4).

Ibnu Abbas berkata : "Ketika lailatul qadar, ditulislah pada ummul kitab, segala yang akan terjadi pada tahun itu, baik yang berupa kebaikan, keburukan, maupun rezki."

5.    At-Takdir Al-Yaumy (Penetapan Harian). Allah Ta'ala berfirman :

"Setiap hari Dia dalam kesibukan." (Ar-Rahman: 29).

Jadi, setiap hari Allah mengampuni dosa, menghilangkan kesusahan, mengangkat derajat suatu kaum, dan merendahkan kaum yang lain . Takdir ini adalah penggiringan berbagai ketentuan kepada waktu-waktu yang telah ditentukan sebelumnya. Takdir yaumy ini merupakan perincian dari takdir sanawi, takdir sanawi perincian dari takdir umri (usia) ketika ruh ditiupkan ke janin yang ada di dalam perut ibunya, sedangkan takdir umri juga merupakan perincian dari takdir pertama, di masa mitsaq (perjanjian), dan takdir di masa mitsaq ini merupakan perincian dari takdir yang ditulis oleh qalam dalam Lauh Mahfuzh . Menurut petunjuk As Sunnah, qalam tersebut terdapat empat macam:

a.    Qalam pertama yang umum dan menyeluruh, meliputi seluruh makhluk.

b.    Qalam kedua ketika Adam diciptakan. Qalam ini juga bersifat umum, tetapi hanya meliputi seluruh bani Adam saja.

c.    Qalam ketiga ketika malaikat diutus kepada janin yang berada diperut ibunya, Qalam ini digunakan untuk menulis empat kalimat.

d.    Qalam keempat diciptakan untuk seorang hamba ketika telah mencapai baligh. Qalam ini dipegang oleh para malaikat pencatat, yang mereka gunakan untuk mencatat apa yang dikerjakan oleh bani Adam .

Apabila seorang hamba telah mengetahui bahwa kesemua itu berasal dari sisi Allah, maka yang wajib baginya adalah meng-Esa-kan Allah dalam beribadah dan bertakwa kepadanya . Seorang hamba berkewajiban untuk menjalankan usaha dengan penuh kesungguhan seraya meminta pertolongan dan petunjuk kepada Allah, ia harus yakin bahwa tidak ada musibah yang menimpanya selain dari apa yang telah dituliskan Allah untuknya, serta meyakini dengan seyakin-yakinnya bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebajikan dan tidak menzhalimi walaupun sekecil biji dzarrah pun.

"Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat biji dzarrahpun, niscaya ia akan melihatnya." (Az-Zalzalah : 7-8).


MADZHAB AHLUS SUNNAH WAL JAMA'AH DALAM MASALAH IMAN DAN DIN

Ad-Dien dan Al-Iman, menurut Ahlus Sunnah adalah : Perkataan,perbuatan, dan keyakinan. Perkataan dengan hati dan lidah, sedangkan perbuatan dengan hati, lidah, dan anggota badan. Iman itu bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Perkataan hati adalah kepercayaan dan keyakinannya. Perkataan lidah adalah pengucapan dua kalimah syahadah dan ikrar terhadap konsekuensi konsekuensinya. Amalan hati adalah niat, ikhlas, cinta, tunduk, dan keterikatan hati kepada Allah, serta tawakkal kepadan-Nya, juga segala hal yang merupakan konsekuensi dari semua itu dan semua yang termasuk amalan hati. Amalan lisan adalah apa saja yang hanya dilaksanakan dengan lidah, seperti membaca Al-Qur'an, seluruh bentuk dzikir, seperti: tasbih, tahmid, dan takbir, doa, istighfar, dan sebagainya. Sedangkan amalan anggota badan adalah apa yang tidak bisa dilaksanakan kecuali dengannya, seperti : berdiri, ruku', sujud, berjalan dalam melaksanakan amalan yang diridhai Allah, amar ma'ruf, dan nahyi munkar . Adapun bertambah dan berkurangnya iman, adalah berdasarkan firman Allah Ta'ala :

"Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat kami, maka bertambahlah iman mereka." (Al-Anfal : 2).

Juga sabda Nabi :

"Akan keluar dari naar barangsiapa yang telah mengucapkan 'Laa Ilaaha Illallah', sedangkan di hatinya terdapat kebaikan seberat biji gandum ."

Di antara dalil yang menunjukkan berkurang dan bertambahnya iman adalah bahwa Allah telah membagi orang-orang beriman menjadi tiga bagian :

"Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih diantara hamba-hamba Kami, lalu diantara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan, dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan, dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar." (Fathir : 32)

Orang yang menganiaya dirinya sendiri, adalah orang yang lalai, yang melaksanakan sebagian kewajiban dan melakukan sebagian perbuatan dosa. Orang yang pertengahan, adalah orang yang melaksanakan seluruh kewajiban dan meninggalkan seluruh perbuatan dosa, tetapi kadang-kadang meninggalkan hal hal yang mustahab dan melakukan hal-hal yang makruh. Sedangkan orang yang lebih dahulu berbuat kebaikan, adalah orang yang melaksanakan semua kewajiban dan hal yang mustahab serta meninggalkan perbuatan haram dan yang makruh .

Ahlus Sunnah wal Jama'ah tidak mengkafirkan Ahlul Qiblah karena kemaksiatan dan dosa besar semata, selama pelakunya tidak menghalalkan perbuatan dosa. Nabi telah bersabda :

"Barangsiapa yang melaksanakan shalat kita, menghadap kiblat kita, dan memakan sembelihan kita, maka ia seorang muslim ."

Setiap pelaku dosa besar atau orang yang melakukan dosa kecil secara terus menerus, maka ia disebut sebagai orang yang maksiat dan fasik. Ia sebagaimana seluruh orang mukmin yang lain, tidak keluar dari keimanan disebabkan kemaksiatannya, selama ia tidak menghalalkannya dosa-dosa tadi. Ia disebut: Orang yang beriman dengan keimanannya dan orang yang fasik dengan dosa besarnya. Atau orang beriman yang kurang keimanannya. Ia tidak diberi sebutan iman secara mutlak, tetapi sebutan tersebut tidak dicabut darinya secara mutlak pula. Adapun hukumnya di akhirat, ia berada di bawah kehendak Allah Ta'ala, bila ia meninggal dunia sebelum bertaubat. Bila Allah menghendaki, niscaya akan mengadzabnya sesuai dengan kadar dosanya, dan tempat terakhirnya adalah jannah. Sebaliknya, jika Allah menghendaki pula, niscaya akan mengampuninya sejak pertama kali dan memasukkannya ke jannah dengan rahmat dan karunianya. Adapun menurut Kaum Khawarij dan Mu'tazilah, pelaku dosa besar itu kekal di naar diakhirat nanti, sedangkan di dunia ia adalah orang kafir yang halal darah dan hartanya menurut Kaum Khawarij, adapun menurut Kaum Mu'tazilah, ia berada di suatu tempat di antara dua tempat, ia keluar dari keimanan, akan tetapi belum masuk ke dalam kekafiran. Lain lagi menurut Kaum Jahmiyah dan Murji'ah, ia tetap sempurna keimanannya dan tidak berhak untuk disiksa. Mengenai hal ini, telah dibahas dalam bab sikap pertengahan Ahlus Sunnah.


MADZHAB AHLUS SUNNAH WAL JAMA'AH DALAM MASALAH PARA SHAHABAT RASULULLAH, ISTERI, DAN AHLI BAIT BELIAU

Salah satu prinsip Ahlu Sunnah adalah bersihnya hati mereka dari kedengkian, kebencian, dan permusuhan terhadap para shahabat Rasulullah lidah mereka juga bersih dari perbuatan mencaci dan mencela. Mereka memohon keridhaan untuk para sahabat dan mendoakan mereka :

"Wahai Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara saudara kami yang telah beriman lebih dahulu daripada kami." (Al -Hasyr : 10).

Mereka mematuhi perintah Nabi yang bersabda :

“Janganlah kalian mencela para sahabatku. Demi Allah yang jiwaku di tangan-Nya, jika salah seorang dari kalian menginfakkan emas sebesar Uhud, niscaya tidak sebanding dengan satu mud mereka atau setengahnya .”

Mereka menerima keutamaan-keutamaan para shahabat sebagaimana yang dikabarkan dalam Al-Kitab dan As-Sunnah. Mereka lebih mengutamakan para shahabat yang telah berinfak dan berperang sejak sebelum Fathu Makkah. Mereka lebih mengutamakan shahabat-shahabat Muhajirin di atas shahabat-shahabat Anshar. Mereka juga mengutamakan sepuluh shahabat Muhajirin yang diberi kabar gembira masuk jannah. Mereka meyakini bahwa Allah telah melihat kepada Ahli Badar yang berjumlah tiga ratus lebih belasan orang, lalu berfirman :

"Berbuatlah kalian semau kalian, karena sesungguhnya Aku telah mengampuni kalian ."

Mereka meyakini bahwa tidak ada seorang puri di antara mereka yang telah berbai'at di bawah “pohon” (dalam Bai'atur Ridwan) yang akan masuk naar. Karena Nabi bersabda :

"Tidak akan masuk naar seorangpun yang telah berbai'at di bawah pohon .'"23

Mereka yang berbai'at itu berjumlah seribu empat ratus orang. Ahlus Sunnah wal Jama'ah juga meyakini, akan masuk jannah orang-orang yang dikabarkan oleh Rasul akan memasukinya, seperti Tsabit bin Qais bin Syamas. Rasulullah telah bersaksi bahwa ia masuk jannah . Demikian halnya sepuluh shahabat yang dikabarkan Rasulullah akan masuk jannah. Mereka adalah : Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Az-Zubair, Thalhah, Sa'ad bin Malik bin Abi Waqqash, Abdurrahman bin Auf, Abu Ubaidah bin Al-Jarah, serta Sa'id bin Zaid . Mereka mengakui bahwa sebaik-baik umat ini setelah Nabi mereka adalah : Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Utsman, kemudian Ali  Mereka berlepas diri dari paham Rafidhah -di muka telah dijelaskan pemahaman mereka- dan Nawashib yang mengkafirkan dan mencela Ahlul Bait, serta menampakkan permusuhan terhadap Ahlul Bait. Ahlus Sunnah menahan diri dari perselisihan di antara mereka dan apa saja yang benar-benar terjadi pada sejarah mereka, karena mereka adalah para mujtahid yang benar, atau kalau tidak mereka adalah mujtahid yang keliru. Ahlus Sunnah berkeyakinan bahwa tidak ada seorang pun yang ma'shum dari dosa besar kecuali para nabi 'alaihim ash-shalah was salam. Para shahabat bisa saja melakukan dosa-dosa, akan tetapi mereka memiliki banyak keutamaan yang menghapuskan keburukan itu. Mereka adalah sebaik-baik generasi . Bisa jadi pula, shahabat yang pernah melakukan dosa itu telah bertaubat. Mereka juga orang yang paling berbahagia dengan syafa'at Muhammad

Ahlus Sunnah mencintai Ahlul Bait Nabi dikarenakan hal itu telah diwasiatkan oleh beliau . Mereka berwala' kepada isteri-isteri Nabi dan memohonkan keridhaan untuk mereka. Mereka juga meyakini bahwa isteri-isteri beliau tersebut adalah isteri-isteri beliau di akhirat. Mereka adalah ibu bagi kaum mukminin (umahatul mukminin) dipandang dari segi penghormatan, pengagungan, dan pengharaman menikahi mereka. Mereka adalah wanita wanita suci yang bebas dari setiap keburukan. Ahlus Sunnah berlepas diri dari siapa saja yang menyakiti atau mencela mereka. Ahlus Sunnah mengharamkan untuk mencaci dan menuduh mereka. Banyak sekali hadits yang menjelaskan keutamaan mereka, kaji kembalilah hadits-hadits tersebut . Semoga Allah meridhai mereka beserta seluruh sahabat Rasulullah


MADZHAB AHLUS SUNNAH DALAM MASALAH KARAMAH PARA WALI

Ahlus Sunnah mempercayai karamah para wali. Karamah adalah sesuatu yang luar biasa, yang terjadi bukan pada seorang nabi. Bila hal itu terjadi pada seorang nabi, maka disebut sebagai mukjizat. Sesuatu yang luar biasa tidak menjadi karamah kecuali bila ia terjadi pada seorang hamba yang nyata keshalihannya, yang memiliki aqidah sahih dan amal shalih. Bila sesuatu yang luar biasa itu terjadi pada diri orang-orang yang menyimpang, maka ia merupakan salah satu dari rekayasa syaithan. Bila hal itu terjadi pada seseorang yang belum diketahui keadaannya, maka keadaannya tersebut diukur dengan Al-Kitab dan As-Sunnah. Sebagaimana diriwayatkan dari Imam Syafi'i, bahwa beliau berkata :

“Apabila kalian melihat seseorang berjalan di atas air dan terbang di udara, maka janganlah kalian mempercayainya sebelum kalian menilai keadaan dirinya berdasarkan Al-Kitab dan As-Sunnah.”

Atau sebagaimana kata beliau Rahimahullah. Ahlus Sunnah mempercayai dan meyakini dengan seyakin-yakinnya akan adanya karamah para wali dan berbagai hal luar biasa yang terjadi pada mereka, baik dalam bidang ilmu pengetahuan, penemuan-penemuan, macam-macam kemampuan, dan pengaruh. Di antaranya adalah kisah Ashabul Kahfi yang tidur panjang. Contoh lain adalah kemurahan Allah kepada Maryam binti Imran yang mendapat rizki sedangkan ia masih berada di dalam mihrab. Salah satu contoh lain adalah ucapan Umar bin Al-Khattab ketika di atas mimbar: "Wahai Sariyah, ke gunung!" Beliau melihat pasukan yang berada di Nahawand tersebut dan Sariyah tersebut mendengar perkataan beliau, sekalipun dari jarak yang jauh. Banyak lagi contoh karamah tersebut, yang tidak terhitung jumlahnya. Kebanyakan dari hal itu terdapat dalam buku Al-Alamah Syaikh Ibnu Taimiyah, yaitu "Al-Furqan Baina Auliya' Ar-Rahman wa Auliya' Asy-Syaithan."


JALAN YANG DITEMPUH AHLUS SUNNAH ADALAH ITTIBA'

Ahlus Sunnah mengikuti perkataan, perbuatan, dan pengakuan Nabi dan inilah yang dimaksud dengan mengikuti jejak beliau (ittiba'). Adapun mengikuti jejak-jejak fisik beliau yang tidak merupakan bagian dari Din, seperti tempat kencing, tidur, dan berjalan beliau, maka tidak diperbolehkan mencaricari hal itu, karena hal itu merupakan sarana menuju kesyirikan. Salah satu jalan (cara) yang dianut oleh Ahlus Sunnah Wal Jama'ah adalah mengikuti perkataan para shahabat ketika tidak ditemukan sunnah Rasulullah. Adapun ketika terdapat nash dari Al-Kitab dan As-Sunnah, maka nash tersebut haruslah didahulukan daripada pendapat siapapun. Allah Ta'ala berfirman :

"Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (As-Sunah), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya." (An-Nisa' : 162).

Ahlus Sunnah wal Jama'ah mematuhi wasiat Rasul untuk berpegang kepada sunnah-Nya dan sunnah Khulafaur Rasyidin. Mereka mengigitnya dengan geraham mereka dan memegangnya erat-erat sebagai pelaksanaan perintah beliau . Mereka mengutamakan firman Allah, kemudian petunjuk Rasulullah Karena itulah mereka disebut sebagai Ahlus Sunnah wal Jama'ah.


DASAR-DASAR YANG DIGUNAKAN OLEH AHLUS SUNNAH WAL JAMA'AH UNTUK MENGUKUR AMALAN SELURUH MANUSIA

Ahlus Sunnah menggunakan tiga dasar untuk mengukur kebenaran amal perbuatan manusia, baik yang lahir maupun yang batin, yang berkaitan dengan Din. Dasar-dasar itu adalah :

1.    Kitabullah 'Azza wa Jalla, yang merupakan sebaik-baik perkataan, barangsiapa berkata dengannya pasti benar, barangsiapa berhukum dengannya pasti adil, barangsiapa yang berpegang teguh padanya pasti mendapatkan petunjuk kepada jalan yang lurus, dan barangsiapa menyimpang darinya pasti tersesat dan sengsara di dunia dan akhirat. Ahlus Sunnah tidak mengutamakan perkataan siapapun daripada perkataan Allah ini.

2.    Sunnah Rasul. Mereka tidak mengutamakan perkataan seorang makhluk Allah pun daripada sunnah Rasul yang shahih.

3.    Kesepakatan (ijma') yang terjadi di masa generasi pertama umat ini, sebelum terjadinya perpecahan, perluasan Islam, serta sebelum bermunculannya bid'ah dan perbedaan pendapat. Adapun pendapat-pendapat yang datang setelah itu, maka mereka timbang dengan ketiga dasar ini. Bila sesuai dengannya, maka mereka menerimanya. Tetapi bila tidak sesuai dengannya, maka mereka menolaknya, tanpa memandang siapa yang mengucapkannya. Inilah manhaj yang benar dan pemahaman yang lurus.


AKHLAK AHLUS SUNNAH WAL JAMA'AH

Penulis Rahimahullah mengakhiri tulisan tentang aqidahnya ini dengan sifat-sifat mulia yang disandang oleh Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Di antara kebaikan dan akhlak mulia mereka adalah : Memerintahkaji yang ma'ruf dan mencegah yang munkar. Ma'ruf 'adalah segala yang dinilai baik oleh syar'i maupun akal sedangkan munkar adalah segala yang dinilai buruk berdasarkan syar'i maupun akal.

Allah Ta'ala berfirman :

"Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan umat yang menyeru kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; mereka itulah orang-orang yang beruntung." (Ali Imran : 104).

Nabi pun bersabda :

"Barangsiapa di antara kalian melihat sesuatu yang munkar, maka hendaklah merubahnya dengan tangannya. Apabila ia tidak mampu, hendaklah dengan lisannya. Apabila tidak mampu, hendaklah dengan hatinya, dan ini selemah-lemah iman ."

Ketiga hal yang disebutkan dalam hadits ini merupakan tingkatan-tingkatan amar ma'ruf nahyi munkar, yaitu dengan tangan, kemudian dengan lisan, dan terakhir dengan hati.

Di antara akhlak mulia Ahlus Sunnah adalah memberikan nasihat (ketulusan) untuk Allah, rasul-Nya, imam-imam kaum muslimin, dan kalangan awam mereka , orang mukmin yang satu dengan mukmin yang lain ibarat bangunan yang tersusun kokoh , mereka mengasihi saudara-saudara muslim mereka , mereka menganjurkan akhlak mulia dan perbuatan yang baik; mereka memerintahkan berlaku sabar dan berbuat baik kepada hamba-hamba Allah sesuai dengan keadaan dan hak mereka, baik kepada kerabat, anak yatim, maupun fakir miskin; dan mereka melarang bersikap congkak dan sombong. Segala yang mereka lakukan tidak lain dalam rangka mengikuti Al-Kitab dan As-Sunah. Kita memohon kepada Allah agar menjadikan kita berada di dalam thaifah (kelompok) yang senantiasa berada di atas kebenaran, mendapatkan pertolongan, dan yang tidak terkena mudharat. dari orang yang memusuhi atau yang enggan menolong, sampai terjadinya kiamat , sesungguhnya, Dialah yang berwewenang dan berkuasa atas hal itu. Dan semoga Allah melimpahkan shalawat kepada nabi kita, Muhammad, juga kepada segenap keluarga dan sahabatnya, serta siapa saja yang mengikuti mereka dengan baik, hingga hari pembalasan.


Alhamdulillahi Robbil ‘alamin